Nobita,sebuah panggilan yang disematkan oleh teman-teman sekelas saat SMK dulu pada seorang sahabat saya yang bernama asli Novita.Sebuah panggilan yang bukan tanpa sebab,karena panggilan ini berkaitan erat dengan kebiasaannya yang tak jauh beda dari karakter Nobita yang ada dalam komik Doraemon.Tukang tidur ditambah sering kesiangan,itulah dua sifat yang ia miliki yang akhirnya membuat kami sepakat memanggil dia dengan panggilan Nobita.
Hampir empat tahun lulus dari SMK saya dan Nobi masih sering bertemu.Sekedar untuk mengobrol dan curhat tentang keseharian kami masing-masing,atau malah terkadang kami pergi naik bis kota berdua tanpa tahu tujuan dari bis kota tersebut.Kami terkadang seperti orang gila,berjalan berdua sambil menertawakan lelucon yang mungkin bagi orang lain yang mendengarnya hanyalah lelucon garing yang tak patut ditertawakan.
Nobi yang sekarang berstatus sebagai mahasiswa tingkat empat di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung masih tak banyak berubah.Ia masih sama seperti Nobi yang saya kenal saat masih sama-sama mengenakan sergam putih abu dulu.Masih tetap seorang Nobi yang jenius dan senang berpenampilan seenaknya tapi juga masih tetap seorang Nobi yang sangat suka datang terlambat.
Nah,kebiasaan Nobi yang sering datang terlambat inilah yang memmbuat saya sering kesal padanya.Bukan hanya sekali atau dua kali tapi berkali-kali mahasiswa jurusan akuntansi itu 'menelantarkan' saya di jalanan.Saya bukan tipe orang yang disiplin ketat,mungkin terlambat lima sampai limabelas menit agak wajar.Ya,jika mengingat lalulintas kota Bandung yang sedikit tidak beraturan sih saya masih bisa menerima keterlambatannya.Tapi hei,sahabat saya ini jika terlambat tak pernah tanggung-tanggung.Berkali-kali dia datang setelah satu atau bahkan dua jam dari jadwal yang telah kami sepakati bersama.
Telah sering Nobi membuat saya berdiri di pinggir jalan,menatap lalu lalang kendaraan sambil menggerutu menunggu kedatangannya.Dan anehnya meski peristiwa ini sudah sering saya alami tak pernah sekalipun saya bisa memarahinya dengan serius.Lima menit pertama saya akan manyun,tak akan membalas omongannya sebagai tanda protes saya terhadap keterlambatannya tapi itu tak pernah bertahan lama karena beberapa menit kemudian dia akan berhasil membuat saya membuka mulut saya.Kami beragumen kecil tapi setelahnya tak ada lagi amarah,hanya sebuah kekesalan sesaat yang akan hilang setelah kami kembali menertawakn lelucon andalan kami.
Nobi memang tak pernah absen membuat saya kesal,tapi tak apalah.Selama ia adalah Nobita,si cuek yang selalu care maka keterlambatannya akan hanya menjadi setitik noda kecil diantara putih tulus persahabatan yang ia punya.
Menikah itu...
Pernikahan,satu kata yang selama hampir satu tahun ini selalu saya hindari ketika berdiskusi dengan ibu.Bukan karena saya anti dengan kata ini hingga harus selalu menjauhinya,saya hanya tak terlalu suka jika ibu 'menekan' saya dengan kata ini.Saya terkadang serasa tua,serasa diburu waktu dikala ibu menasehati saya untuk segera menikah.
Well,tujuan ibu memang baik.Ibu tidak ingin saya menikah di usia yang terlalu senja,ibu hanya ingin saya segera menemukan pasangan hidup agar ada yang menjaga saya.Saya pun tak pernah menunda-nunda waktu sebenarnya,berkali-kali saya menjelaskan pada ibu kalau saya tak pernah mengutamakan pekerjaan,saya juga memikirkan tentang masa depan tapi memang saat ini pria yang tepat itu belum juga saya temui.
Perkara menikah bagi saya adalah sesuatu yang sangat sakral,sesuatu yang saya ingin jalani hanya sekali seumur hidup.Bagi saya menikah bukan hanya pelegalan sebuah hubungan pria dan wanita,juga bukan hanya tentang cinta antara sepasang insan.Menikah lebih dari itu.
Menikah itu adalah tempat dimana dua kebudayaan dari dua keluarga bertemu.Memperlihatkan banyaknya perbedaan yang menunggu untuk disikapi dengan bijak.Membuang ego masing-masing agar tak ada yang merasa lebih benar atau lebih baik,pernikahan meminta kita untuk lebih memahami pasangan bukan menunggu untuk dipahami oleh pasangan.
Menikah itu adalah sebuah ikatan yang meminta kita untuk selalu bertanggung jawab.Ini bukan hanya tentang keromantisan dua orang yang tengah dilanda cinta,tapi ini juga tentang cinta ayah dan ibu pada anak-anaknya kelak,tentang pengabdian seorang istri yang tunduk pada suaminya,dan tentang kepemimpian seorang suami dalam membawahi istri dan anak-anaknya.Pertanggung jawaban yang akan dituntut bukan hanya di dunia namun kelak ketika kita berhadapan langsung dengan Tuhan.
Menikah itu adalah memupuk benih cinta yang dipunya,merawatnya setiap hari agar terus tumbuh dan menjadi pohon rindang yang menyejukkan.
Saya mungkin terlihat sok tahu,sebagai seorang gadis yang belum menikah memang saya hanya bisa berteori mengenai pernikahan karena sejatinya saya belum merasakan sendiri seperti apa berdiri diatas kata itu.Namun dari pahit manisnya pernikahan orang-orang terdekat saya belajar untuk memahami,sebuah pemahaman yang akhirnya melahirkan sebuah pengharapan.Berharap agar pada saatnya tiba saya bisa memaknai pernikahan dengan cara yang benar.
Well,tujuan ibu memang baik.Ibu tidak ingin saya menikah di usia yang terlalu senja,ibu hanya ingin saya segera menemukan pasangan hidup agar ada yang menjaga saya.Saya pun tak pernah menunda-nunda waktu sebenarnya,berkali-kali saya menjelaskan pada ibu kalau saya tak pernah mengutamakan pekerjaan,saya juga memikirkan tentang masa depan tapi memang saat ini pria yang tepat itu belum juga saya temui.
Perkara menikah bagi saya adalah sesuatu yang sangat sakral,sesuatu yang saya ingin jalani hanya sekali seumur hidup.Bagi saya menikah bukan hanya pelegalan sebuah hubungan pria dan wanita,juga bukan hanya tentang cinta antara sepasang insan.Menikah lebih dari itu.
Menikah itu adalah tempat dimana dua kebudayaan dari dua keluarga bertemu.Memperlihatkan banyaknya perbedaan yang menunggu untuk disikapi dengan bijak.Membuang ego masing-masing agar tak ada yang merasa lebih benar atau lebih baik,pernikahan meminta kita untuk lebih memahami pasangan bukan menunggu untuk dipahami oleh pasangan.
Menikah itu adalah sebuah ikatan yang meminta kita untuk selalu bertanggung jawab.Ini bukan hanya tentang keromantisan dua orang yang tengah dilanda cinta,tapi ini juga tentang cinta ayah dan ibu pada anak-anaknya kelak,tentang pengabdian seorang istri yang tunduk pada suaminya,dan tentang kepemimpian seorang suami dalam membawahi istri dan anak-anaknya.Pertanggung jawaban yang akan dituntut bukan hanya di dunia namun kelak ketika kita berhadapan langsung dengan Tuhan.
Menikah itu adalah memupuk benih cinta yang dipunya,merawatnya setiap hari agar terus tumbuh dan menjadi pohon rindang yang menyejukkan.
Saya mungkin terlihat sok tahu,sebagai seorang gadis yang belum menikah memang saya hanya bisa berteori mengenai pernikahan karena sejatinya saya belum merasakan sendiri seperti apa berdiri diatas kata itu.Namun dari pahit manisnya pernikahan orang-orang terdekat saya belajar untuk memahami,sebuah pemahaman yang akhirnya melahirkan sebuah pengharapan.Berharap agar pada saatnya tiba saya bisa memaknai pernikahan dengan cara yang benar.
Impian ibu
Ada seorang perempuan hebat yang kini menjadi motivator terpenting dalam hidup saya.Seorang perempuan yang dari cara beliau hiduplah saya belajar banyak.
Beliau adalah ibu saya.Seorang perempuan berumur 40-an yang tak pernah putus asa.Dulu ibu menikah muda,sangat muda mungkin.Seingat saya ibu dulu pernah bercerita kalau alasan memilih menikah muda adalah karena ibu tak mau merepotkan kakek dan nenek.Ibu tak pernah lulus sekolah dasar maka beliau tak memiliki ijazah apapun untuk melamar pekerjaan.Bekerja serabutan pernah beliau lakoni,yang penting dapur rumah bisa tetap ngebul begitu menurut ibu.
Bertemu ayah yang dulu bekerja sebagai buruh konveksi,kemudian menjalin kasih dan akhirnya memutuskan menikah di usia muda,ibu berharap dengan memilih menikah maka beban kakek dan nenek akan berkurang.
Begitulah,ayah dan ibu lalu menikah dengan sangat sederhana.Tak ada resepsi mewah,hanya ada akad nikah yang diselenggarakan di rumah kakek dan nenek yang dulu masih memakai bilik bambu.
Setahun kemudian lalu lahirlah saya,dua tahun kemudian lahirlah Edna-adik pertama saya dan selang enam tahun kemudian adik bungsu saya-Erni pun lahir.Dianugerahi tiga anak perempuan tentu saja membuat ibu dan ayah bahagia tapi disisi lain kekhawatiran pun muncul.Saat itu upah ayah sangat pas-pasan,belum lagi ayah sempat kena phk.Kami akhirnya menjadi beban bagi kakek dan nenek,kembali hidup menumpang.Beruntung,kakek adalah seorang mertua yang pengertian,kakek tak pernah menuntut ayah segera mendapatkan pekerjaan,tak pernah menunjukan sikap tak suka dengan keberadaan kami di rumah beliau,justru kakeklah yang membantu ayah menemukan pekerjaan yang baru.
Tak jauh dari rumah kakek,ada sebuah asrama Akademi Keperawatan yang baru saja dibangun.Kebetulan kakek memiliki kenalan yang bekerja disana,beliaulah yang membantu meyakinkan kenalannya itu kalau menantunya bisa diamanahi untuk menjadi penjaga asrama.
Ayah lalu bekerja disana,meski upahnya sangat minim tapi setidaknya pekerjaan itu memberikan kami tempat tinggal.Pihak asrama memberi izin bagi kami untuk menempati sebuah ruangan yang tak terpakai.Sempit,kecil dan menyesakkan,tiga kata itulah yang bisa digunakan untuk menggambarkan betapa kecilnya 'rumah' kami dulu.kami berlima tinggal dalam ruangan yang lebih cocok digunakan untuk kamar kos seorang mahasiswa.Makan disana,tidur disana,mengerjakan pr disana bahkan bercanda pun disana.Ya disana,di ruangan sempit itu, di ruangan yang biasa kami panggil rumah itu.
Dengan upah penjaga asrama yang pas-pasan,yang cukup hanya untuk makan kami sehari-hari itu,ibu kembali merasa cemas.Ibu tahu kalau penghasilan ayah tak akan pernah cukup,tak akan bisa menyekolahkan ketiga anakanya seperti impian ibu selama ini.Ya,ibu memiliki impian menyekolahkan kami bertiga setinggi-tingginya,minimal setingkat sekolah menengah atas.Ibu tak mau ketiga anaknya kelak seperti beliau,tak berpendidikan,dipandang remeh orang,dihina orang.Ibu ingin kelak kami bisa mengangkat kepala kami,tegak dihadapan orang tanpa merasa malu karena cemoohan orang.
Ibu adalah perempuan kuat bagi saya.Berbagai pekerjaan beliau jalani bahkan jatuh bangun menjadi seorang pedagang keliling pun pernah beliau rasakan.Semua itu tak lain karena besarnya rasa cinta ibu pada kami,ketiga anaknya.
Ibu tidak pernah merasa malu ketika beliau memakai baju yang lusuh selama bertahun-tahun,tak pernah merasa malu karena tak pernah dibelikan perhiasan oleh ayah,bahkan saat ayah sakit parah pun ibu tak malu menjadi tulang punggung keluarga.Beliau tetap bekerja keras,bekerja dengan hati yang ikhlas tanpa pernah mengeluh.
Rasa sayang yang ibu miliki untuk kami menjadi kekuatan terbesar bagi beliau.Berkali-kali ditipu orang,terbelit hutang demi mebayar spp,digusur saat berjualan dan hal-hal buruk lainnya pernah ibu alami.Tapi seingat saya tak pernah ada satu keluhan pun yang terucap dari mulut ibu.Tak pernah sekali pun ibu berputus asa,ibu tetap berjuang dengan keyakinannya.Keyakinan bahwa di masa depan kami bertiga tak boleh hidup semenderita beliau.Dari kecil ibu telah bekerja,beliau tahu rasanya hidup susah seperti apa hingga tak mau dan tak rela jika kelak anaknya merasakan apa yang ia rasakan di masa lampau.
Ibu mendidik kami menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.Kami dididik berjualan dari kecil dan ketika kami menginginkan sesuatu kami dididik untuk tidak meminta,kami dididik untuk mencari uang sendiri agar bisa membeli barang tersebut.Sebut saja berjualan gorengan,berjualan bunga menjelang lebaran,berjualan kue atau berjualan sayuran,semuanya pernah saya jalani.Ibu ingin menanamkan jiwa wirausahawan pada kami,prinsip beliau yang pantang meminta selama masih bisa berusaha mengajari kami untuk tidak menjadi tiga anak manja.
Kini,disaat saya berusia 22 tahun,disaat saya telah bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri secara perlahan saya menyadari betapa banyaknya pengorbanan ibu untuk kami.Tanpa bermaksud mengecilkan peran ayah yang memang ikut berkorban juga,saya merasa bahwa sosok penting dalam hidup saya adalah ibu.Saya bisa berada didepan komputer dan mengetik rangkaian kalimat ini adalah berkat tetes keringat seorang perempuan yang tak hentinya berdoa.Saya menjadi saya yang sekarang adalah karena usaha siang dan malam yang ibu lakoni.
Ibu,impianmu memang belum bisa terwujud sepenuhnya.Kami memang baru bisa lulus dari sekolah meengah atas,belum bisa memberikan kebanggan pada ibu,belum bisa mengatakan pada ibu agar diam di rumah dan biarkan kami yang bekerja.Tapi usaha dan doa ibu selama ini telah menjadi motivasi terbesar bagi kami untuk tak henti belajar dan bekerja untuk ikut serta mewujudkan impian ibu.
Suatu hari bu,ya doakan kami terus agar suatu hari kami bisa merealisasikan impian itu bu.Suatu hari kami akan membuat ibu tersenyum bangga,suatu hari,itu janji kami,bu.
Beliau adalah ibu saya.Seorang perempuan berumur 40-an yang tak pernah putus asa.Dulu ibu menikah muda,sangat muda mungkin.Seingat saya ibu dulu pernah bercerita kalau alasan memilih menikah muda adalah karena ibu tak mau merepotkan kakek dan nenek.Ibu tak pernah lulus sekolah dasar maka beliau tak memiliki ijazah apapun untuk melamar pekerjaan.Bekerja serabutan pernah beliau lakoni,yang penting dapur rumah bisa tetap ngebul begitu menurut ibu.
Bertemu ayah yang dulu bekerja sebagai buruh konveksi,kemudian menjalin kasih dan akhirnya memutuskan menikah di usia muda,ibu berharap dengan memilih menikah maka beban kakek dan nenek akan berkurang.
Begitulah,ayah dan ibu lalu menikah dengan sangat sederhana.Tak ada resepsi mewah,hanya ada akad nikah yang diselenggarakan di rumah kakek dan nenek yang dulu masih memakai bilik bambu.
Setahun kemudian lalu lahirlah saya,dua tahun kemudian lahirlah Edna-adik pertama saya dan selang enam tahun kemudian adik bungsu saya-Erni pun lahir.Dianugerahi tiga anak perempuan tentu saja membuat ibu dan ayah bahagia tapi disisi lain kekhawatiran pun muncul.Saat itu upah ayah sangat pas-pasan,belum lagi ayah sempat kena phk.Kami akhirnya menjadi beban bagi kakek dan nenek,kembali hidup menumpang.Beruntung,kakek adalah seorang mertua yang pengertian,kakek tak pernah menuntut ayah segera mendapatkan pekerjaan,tak pernah menunjukan sikap tak suka dengan keberadaan kami di rumah beliau,justru kakeklah yang membantu ayah menemukan pekerjaan yang baru.
Tak jauh dari rumah kakek,ada sebuah asrama Akademi Keperawatan yang baru saja dibangun.Kebetulan kakek memiliki kenalan yang bekerja disana,beliaulah yang membantu meyakinkan kenalannya itu kalau menantunya bisa diamanahi untuk menjadi penjaga asrama.
Ayah lalu bekerja disana,meski upahnya sangat minim tapi setidaknya pekerjaan itu memberikan kami tempat tinggal.Pihak asrama memberi izin bagi kami untuk menempati sebuah ruangan yang tak terpakai.Sempit,kecil dan menyesakkan,tiga kata itulah yang bisa digunakan untuk menggambarkan betapa kecilnya 'rumah' kami dulu.kami berlima tinggal dalam ruangan yang lebih cocok digunakan untuk kamar kos seorang mahasiswa.Makan disana,tidur disana,mengerjakan pr disana bahkan bercanda pun disana.Ya disana,di ruangan sempit itu, di ruangan yang biasa kami panggil rumah itu.
Dengan upah penjaga asrama yang pas-pasan,yang cukup hanya untuk makan kami sehari-hari itu,ibu kembali merasa cemas.Ibu tahu kalau penghasilan ayah tak akan pernah cukup,tak akan bisa menyekolahkan ketiga anakanya seperti impian ibu selama ini.Ya,ibu memiliki impian menyekolahkan kami bertiga setinggi-tingginya,minimal setingkat sekolah menengah atas.Ibu tak mau ketiga anaknya kelak seperti beliau,tak berpendidikan,dipandang remeh orang,dihina orang.Ibu ingin kelak kami bisa mengangkat kepala kami,tegak dihadapan orang tanpa merasa malu karena cemoohan orang.
Ibu adalah perempuan kuat bagi saya.Berbagai pekerjaan beliau jalani bahkan jatuh bangun menjadi seorang pedagang keliling pun pernah beliau rasakan.Semua itu tak lain karena besarnya rasa cinta ibu pada kami,ketiga anaknya.
Ibu tidak pernah merasa malu ketika beliau memakai baju yang lusuh selama bertahun-tahun,tak pernah merasa malu karena tak pernah dibelikan perhiasan oleh ayah,bahkan saat ayah sakit parah pun ibu tak malu menjadi tulang punggung keluarga.Beliau tetap bekerja keras,bekerja dengan hati yang ikhlas tanpa pernah mengeluh.
Rasa sayang yang ibu miliki untuk kami menjadi kekuatan terbesar bagi beliau.Berkali-kali ditipu orang,terbelit hutang demi mebayar spp,digusur saat berjualan dan hal-hal buruk lainnya pernah ibu alami.Tapi seingat saya tak pernah ada satu keluhan pun yang terucap dari mulut ibu.Tak pernah sekali pun ibu berputus asa,ibu tetap berjuang dengan keyakinannya.Keyakinan bahwa di masa depan kami bertiga tak boleh hidup semenderita beliau.Dari kecil ibu telah bekerja,beliau tahu rasanya hidup susah seperti apa hingga tak mau dan tak rela jika kelak anaknya merasakan apa yang ia rasakan di masa lampau.
Ibu mendidik kami menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.Kami dididik berjualan dari kecil dan ketika kami menginginkan sesuatu kami dididik untuk tidak meminta,kami dididik untuk mencari uang sendiri agar bisa membeli barang tersebut.Sebut saja berjualan gorengan,berjualan bunga menjelang lebaran,berjualan kue atau berjualan sayuran,semuanya pernah saya jalani.Ibu ingin menanamkan jiwa wirausahawan pada kami,prinsip beliau yang pantang meminta selama masih bisa berusaha mengajari kami untuk tidak menjadi tiga anak manja.
Kini,disaat saya berusia 22 tahun,disaat saya telah bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri secara perlahan saya menyadari betapa banyaknya pengorbanan ibu untuk kami.Tanpa bermaksud mengecilkan peran ayah yang memang ikut berkorban juga,saya merasa bahwa sosok penting dalam hidup saya adalah ibu.Saya bisa berada didepan komputer dan mengetik rangkaian kalimat ini adalah berkat tetes keringat seorang perempuan yang tak hentinya berdoa.Saya menjadi saya yang sekarang adalah karena usaha siang dan malam yang ibu lakoni.
Ibu,impianmu memang belum bisa terwujud sepenuhnya.Kami memang baru bisa lulus dari sekolah meengah atas,belum bisa memberikan kebanggan pada ibu,belum bisa mengatakan pada ibu agar diam di rumah dan biarkan kami yang bekerja.Tapi usaha dan doa ibu selama ini telah menjadi motivasi terbesar bagi kami untuk tak henti belajar dan bekerja untuk ikut serta mewujudkan impian ibu.
Suatu hari bu,ya doakan kami terus agar suatu hari kami bisa merealisasikan impian itu bu.Suatu hari kami akan membuat ibu tersenyum bangga,suatu hari,itu janji kami,bu.


