Rss Feed

Menikah itu...

Pernikahan,satu kata yang selama hampir satu tahun ini selalu saya hindari ketika berdiskusi dengan ibu.Bukan karena saya anti dengan kata ini hingga harus selalu menjauhinya,saya hanya tak terlalu suka jika ibu 'menekan' saya dengan kata ini.Saya terkadang serasa tua,serasa diburu waktu dikala ibu menasehati saya untuk segera menikah.

Well,tujuan ibu memang baik.Ibu tidak ingin saya menikah di usia yang terlalu senja,ibu hanya ingin saya segera menemukan pasangan hidup agar ada yang menjaga saya.Saya pun tak pernah menunda-nunda waktu sebenarnya,berkali-kali saya menjelaskan pada ibu kalau saya tak pernah mengutamakan pekerjaan,saya juga memikirkan tentang masa depan tapi memang saat ini pria yang tepat itu belum juga saya temui.

Perkara menikah bagi saya adalah sesuatu yang sangat sakral,sesuatu yang saya ingin jalani hanya sekali seumur hidup.Bagi saya menikah bukan hanya pelegalan sebuah hubungan pria dan wanita,juga bukan hanya tentang cinta antara sepasang insan.Menikah lebih dari itu.

Menikah itu adalah tempat dimana dua kebudayaan dari dua keluarga bertemu.Memperlihatkan banyaknya perbedaan yang menunggu untuk disikapi dengan bijak.Membuang ego masing-masing agar tak ada yang merasa lebih benar atau lebih baik,pernikahan meminta kita untuk lebih memahami pasangan bukan menunggu untuk dipahami oleh pasangan.

Menikah itu adalah sebuah ikatan yang meminta kita untuk selalu bertanggung jawab.Ini bukan hanya tentang keromantisan dua orang yang tengah dilanda cinta,tapi ini juga tentang cinta ayah dan ibu pada anak-anaknya kelak,tentang pengabdian seorang istri yang tunduk pada suaminya,dan tentang kepemimpian seorang suami dalam membawahi istri dan anak-anaknya.Pertanggung jawaban yang akan dituntut bukan hanya di dunia namun kelak ketika kita berhadapan langsung dengan Tuhan.

Menikah itu adalah memupuk benih cinta yang dipunya,merawatnya setiap hari agar terus tumbuh dan menjadi pohon rindang yang menyejukkan.

Saya mungkin terlihat sok tahu,sebagai seorang gadis yang belum menikah memang saya hanya bisa berteori mengenai pernikahan karena sejatinya saya belum merasakan sendiri seperti apa berdiri diatas kata itu.Namun dari pahit manisnya pernikahan orang-orang terdekat saya belajar untuk memahami,sebuah pemahaman yang akhirnya melahirkan sebuah pengharapan.Berharap agar pada saatnya tiba saya bisa memaknai pernikahan dengan cara yang benar.

0 komentar:

Posting Komentar