Nobita,sebuah panggilan yang disematkan oleh teman-teman sekelas saat SMK dulu pada seorang sahabat saya yang bernama asli Novita.Sebuah panggilan yang bukan tanpa sebab,karena panggilan ini berkaitan erat dengan kebiasaannya yang tak jauh beda dari karakter Nobita yang ada dalam komik Doraemon.Tukang tidur ditambah sering kesiangan,itulah dua sifat yang ia miliki yang akhirnya membuat kami sepakat memanggil dia dengan panggilan Nobita.
Hampir empat tahun lulus dari SMK saya dan Nobi masih sering bertemu.Sekedar untuk mengobrol dan curhat tentang keseharian kami masing-masing,atau malah terkadang kami pergi naik bis kota berdua tanpa tahu tujuan dari bis kota tersebut.Kami terkadang seperti orang gila,berjalan berdua sambil menertawakan lelucon yang mungkin bagi orang lain yang mendengarnya hanyalah lelucon garing yang tak patut ditertawakan.
Nobi yang sekarang berstatus sebagai mahasiswa tingkat empat di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung masih tak banyak berubah.Ia masih sama seperti Nobi yang saya kenal saat masih sama-sama mengenakan sergam putih abu dulu.Masih tetap seorang Nobi yang jenius dan senang berpenampilan seenaknya tapi juga masih tetap seorang Nobi yang sangat suka datang terlambat.
Nah,kebiasaan Nobi yang sering datang terlambat inilah yang memmbuat saya sering kesal padanya.Bukan hanya sekali atau dua kali tapi berkali-kali mahasiswa jurusan akuntansi itu 'menelantarkan' saya di jalanan.Saya bukan tipe orang yang disiplin ketat,mungkin terlambat lima sampai limabelas menit agak wajar.Ya,jika mengingat lalulintas kota Bandung yang sedikit tidak beraturan sih saya masih bisa menerima keterlambatannya.Tapi hei,sahabat saya ini jika terlambat tak pernah tanggung-tanggung.Berkali-kali dia datang setelah satu atau bahkan dua jam dari jadwal yang telah kami sepakati bersama.
Telah sering Nobi membuat saya berdiri di pinggir jalan,menatap lalu lalang kendaraan sambil menggerutu menunggu kedatangannya.Dan anehnya meski peristiwa ini sudah sering saya alami tak pernah sekalipun saya bisa memarahinya dengan serius.Lima menit pertama saya akan manyun,tak akan membalas omongannya sebagai tanda protes saya terhadap keterlambatannya tapi itu tak pernah bertahan lama karena beberapa menit kemudian dia akan berhasil membuat saya membuka mulut saya.Kami beragumen kecil tapi setelahnya tak ada lagi amarah,hanya sebuah kekesalan sesaat yang akan hilang setelah kami kembali menertawakn lelucon andalan kami.
Nobi memang tak pernah absen membuat saya kesal,tapi tak apalah.Selama ia adalah Nobita,si cuek yang selalu care maka keterlambatannya akan hanya menjadi setitik noda kecil diantara putih tulus persahabatan yang ia punya.
Menikah itu...
Pernikahan,satu kata yang selama hampir satu tahun ini selalu saya hindari ketika berdiskusi dengan ibu.Bukan karena saya anti dengan kata ini hingga harus selalu menjauhinya,saya hanya tak terlalu suka jika ibu 'menekan' saya dengan kata ini.Saya terkadang serasa tua,serasa diburu waktu dikala ibu menasehati saya untuk segera menikah.
Well,tujuan ibu memang baik.Ibu tidak ingin saya menikah di usia yang terlalu senja,ibu hanya ingin saya segera menemukan pasangan hidup agar ada yang menjaga saya.Saya pun tak pernah menunda-nunda waktu sebenarnya,berkali-kali saya menjelaskan pada ibu kalau saya tak pernah mengutamakan pekerjaan,saya juga memikirkan tentang masa depan tapi memang saat ini pria yang tepat itu belum juga saya temui.
Perkara menikah bagi saya adalah sesuatu yang sangat sakral,sesuatu yang saya ingin jalani hanya sekali seumur hidup.Bagi saya menikah bukan hanya pelegalan sebuah hubungan pria dan wanita,juga bukan hanya tentang cinta antara sepasang insan.Menikah lebih dari itu.
Menikah itu adalah tempat dimana dua kebudayaan dari dua keluarga bertemu.Memperlihatkan banyaknya perbedaan yang menunggu untuk disikapi dengan bijak.Membuang ego masing-masing agar tak ada yang merasa lebih benar atau lebih baik,pernikahan meminta kita untuk lebih memahami pasangan bukan menunggu untuk dipahami oleh pasangan.
Menikah itu adalah sebuah ikatan yang meminta kita untuk selalu bertanggung jawab.Ini bukan hanya tentang keromantisan dua orang yang tengah dilanda cinta,tapi ini juga tentang cinta ayah dan ibu pada anak-anaknya kelak,tentang pengabdian seorang istri yang tunduk pada suaminya,dan tentang kepemimpian seorang suami dalam membawahi istri dan anak-anaknya.Pertanggung jawaban yang akan dituntut bukan hanya di dunia namun kelak ketika kita berhadapan langsung dengan Tuhan.
Menikah itu adalah memupuk benih cinta yang dipunya,merawatnya setiap hari agar terus tumbuh dan menjadi pohon rindang yang menyejukkan.
Saya mungkin terlihat sok tahu,sebagai seorang gadis yang belum menikah memang saya hanya bisa berteori mengenai pernikahan karena sejatinya saya belum merasakan sendiri seperti apa berdiri diatas kata itu.Namun dari pahit manisnya pernikahan orang-orang terdekat saya belajar untuk memahami,sebuah pemahaman yang akhirnya melahirkan sebuah pengharapan.Berharap agar pada saatnya tiba saya bisa memaknai pernikahan dengan cara yang benar.
Well,tujuan ibu memang baik.Ibu tidak ingin saya menikah di usia yang terlalu senja,ibu hanya ingin saya segera menemukan pasangan hidup agar ada yang menjaga saya.Saya pun tak pernah menunda-nunda waktu sebenarnya,berkali-kali saya menjelaskan pada ibu kalau saya tak pernah mengutamakan pekerjaan,saya juga memikirkan tentang masa depan tapi memang saat ini pria yang tepat itu belum juga saya temui.
Perkara menikah bagi saya adalah sesuatu yang sangat sakral,sesuatu yang saya ingin jalani hanya sekali seumur hidup.Bagi saya menikah bukan hanya pelegalan sebuah hubungan pria dan wanita,juga bukan hanya tentang cinta antara sepasang insan.Menikah lebih dari itu.
Menikah itu adalah tempat dimana dua kebudayaan dari dua keluarga bertemu.Memperlihatkan banyaknya perbedaan yang menunggu untuk disikapi dengan bijak.Membuang ego masing-masing agar tak ada yang merasa lebih benar atau lebih baik,pernikahan meminta kita untuk lebih memahami pasangan bukan menunggu untuk dipahami oleh pasangan.
Menikah itu adalah sebuah ikatan yang meminta kita untuk selalu bertanggung jawab.Ini bukan hanya tentang keromantisan dua orang yang tengah dilanda cinta,tapi ini juga tentang cinta ayah dan ibu pada anak-anaknya kelak,tentang pengabdian seorang istri yang tunduk pada suaminya,dan tentang kepemimpian seorang suami dalam membawahi istri dan anak-anaknya.Pertanggung jawaban yang akan dituntut bukan hanya di dunia namun kelak ketika kita berhadapan langsung dengan Tuhan.
Menikah itu adalah memupuk benih cinta yang dipunya,merawatnya setiap hari agar terus tumbuh dan menjadi pohon rindang yang menyejukkan.
Saya mungkin terlihat sok tahu,sebagai seorang gadis yang belum menikah memang saya hanya bisa berteori mengenai pernikahan karena sejatinya saya belum merasakan sendiri seperti apa berdiri diatas kata itu.Namun dari pahit manisnya pernikahan orang-orang terdekat saya belajar untuk memahami,sebuah pemahaman yang akhirnya melahirkan sebuah pengharapan.Berharap agar pada saatnya tiba saya bisa memaknai pernikahan dengan cara yang benar.
Impian ibu
Ada seorang perempuan hebat yang kini menjadi motivator terpenting dalam hidup saya.Seorang perempuan yang dari cara beliau hiduplah saya belajar banyak.
Beliau adalah ibu saya.Seorang perempuan berumur 40-an yang tak pernah putus asa.Dulu ibu menikah muda,sangat muda mungkin.Seingat saya ibu dulu pernah bercerita kalau alasan memilih menikah muda adalah karena ibu tak mau merepotkan kakek dan nenek.Ibu tak pernah lulus sekolah dasar maka beliau tak memiliki ijazah apapun untuk melamar pekerjaan.Bekerja serabutan pernah beliau lakoni,yang penting dapur rumah bisa tetap ngebul begitu menurut ibu.
Bertemu ayah yang dulu bekerja sebagai buruh konveksi,kemudian menjalin kasih dan akhirnya memutuskan menikah di usia muda,ibu berharap dengan memilih menikah maka beban kakek dan nenek akan berkurang.
Begitulah,ayah dan ibu lalu menikah dengan sangat sederhana.Tak ada resepsi mewah,hanya ada akad nikah yang diselenggarakan di rumah kakek dan nenek yang dulu masih memakai bilik bambu.
Setahun kemudian lalu lahirlah saya,dua tahun kemudian lahirlah Edna-adik pertama saya dan selang enam tahun kemudian adik bungsu saya-Erni pun lahir.Dianugerahi tiga anak perempuan tentu saja membuat ibu dan ayah bahagia tapi disisi lain kekhawatiran pun muncul.Saat itu upah ayah sangat pas-pasan,belum lagi ayah sempat kena phk.Kami akhirnya menjadi beban bagi kakek dan nenek,kembali hidup menumpang.Beruntung,kakek adalah seorang mertua yang pengertian,kakek tak pernah menuntut ayah segera mendapatkan pekerjaan,tak pernah menunjukan sikap tak suka dengan keberadaan kami di rumah beliau,justru kakeklah yang membantu ayah menemukan pekerjaan yang baru.
Tak jauh dari rumah kakek,ada sebuah asrama Akademi Keperawatan yang baru saja dibangun.Kebetulan kakek memiliki kenalan yang bekerja disana,beliaulah yang membantu meyakinkan kenalannya itu kalau menantunya bisa diamanahi untuk menjadi penjaga asrama.
Ayah lalu bekerja disana,meski upahnya sangat minim tapi setidaknya pekerjaan itu memberikan kami tempat tinggal.Pihak asrama memberi izin bagi kami untuk menempati sebuah ruangan yang tak terpakai.Sempit,kecil dan menyesakkan,tiga kata itulah yang bisa digunakan untuk menggambarkan betapa kecilnya 'rumah' kami dulu.kami berlima tinggal dalam ruangan yang lebih cocok digunakan untuk kamar kos seorang mahasiswa.Makan disana,tidur disana,mengerjakan pr disana bahkan bercanda pun disana.Ya disana,di ruangan sempit itu, di ruangan yang biasa kami panggil rumah itu.
Dengan upah penjaga asrama yang pas-pasan,yang cukup hanya untuk makan kami sehari-hari itu,ibu kembali merasa cemas.Ibu tahu kalau penghasilan ayah tak akan pernah cukup,tak akan bisa menyekolahkan ketiga anakanya seperti impian ibu selama ini.Ya,ibu memiliki impian menyekolahkan kami bertiga setinggi-tingginya,minimal setingkat sekolah menengah atas.Ibu tak mau ketiga anaknya kelak seperti beliau,tak berpendidikan,dipandang remeh orang,dihina orang.Ibu ingin kelak kami bisa mengangkat kepala kami,tegak dihadapan orang tanpa merasa malu karena cemoohan orang.
Ibu adalah perempuan kuat bagi saya.Berbagai pekerjaan beliau jalani bahkan jatuh bangun menjadi seorang pedagang keliling pun pernah beliau rasakan.Semua itu tak lain karena besarnya rasa cinta ibu pada kami,ketiga anaknya.
Ibu tidak pernah merasa malu ketika beliau memakai baju yang lusuh selama bertahun-tahun,tak pernah merasa malu karena tak pernah dibelikan perhiasan oleh ayah,bahkan saat ayah sakit parah pun ibu tak malu menjadi tulang punggung keluarga.Beliau tetap bekerja keras,bekerja dengan hati yang ikhlas tanpa pernah mengeluh.
Rasa sayang yang ibu miliki untuk kami menjadi kekuatan terbesar bagi beliau.Berkali-kali ditipu orang,terbelit hutang demi mebayar spp,digusur saat berjualan dan hal-hal buruk lainnya pernah ibu alami.Tapi seingat saya tak pernah ada satu keluhan pun yang terucap dari mulut ibu.Tak pernah sekali pun ibu berputus asa,ibu tetap berjuang dengan keyakinannya.Keyakinan bahwa di masa depan kami bertiga tak boleh hidup semenderita beliau.Dari kecil ibu telah bekerja,beliau tahu rasanya hidup susah seperti apa hingga tak mau dan tak rela jika kelak anaknya merasakan apa yang ia rasakan di masa lampau.
Ibu mendidik kami menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.Kami dididik berjualan dari kecil dan ketika kami menginginkan sesuatu kami dididik untuk tidak meminta,kami dididik untuk mencari uang sendiri agar bisa membeli barang tersebut.Sebut saja berjualan gorengan,berjualan bunga menjelang lebaran,berjualan kue atau berjualan sayuran,semuanya pernah saya jalani.Ibu ingin menanamkan jiwa wirausahawan pada kami,prinsip beliau yang pantang meminta selama masih bisa berusaha mengajari kami untuk tidak menjadi tiga anak manja.
Kini,disaat saya berusia 22 tahun,disaat saya telah bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri secara perlahan saya menyadari betapa banyaknya pengorbanan ibu untuk kami.Tanpa bermaksud mengecilkan peran ayah yang memang ikut berkorban juga,saya merasa bahwa sosok penting dalam hidup saya adalah ibu.Saya bisa berada didepan komputer dan mengetik rangkaian kalimat ini adalah berkat tetes keringat seorang perempuan yang tak hentinya berdoa.Saya menjadi saya yang sekarang adalah karena usaha siang dan malam yang ibu lakoni.
Ibu,impianmu memang belum bisa terwujud sepenuhnya.Kami memang baru bisa lulus dari sekolah meengah atas,belum bisa memberikan kebanggan pada ibu,belum bisa mengatakan pada ibu agar diam di rumah dan biarkan kami yang bekerja.Tapi usaha dan doa ibu selama ini telah menjadi motivasi terbesar bagi kami untuk tak henti belajar dan bekerja untuk ikut serta mewujudkan impian ibu.
Suatu hari bu,ya doakan kami terus agar suatu hari kami bisa merealisasikan impian itu bu.Suatu hari kami akan membuat ibu tersenyum bangga,suatu hari,itu janji kami,bu.
Beliau adalah ibu saya.Seorang perempuan berumur 40-an yang tak pernah putus asa.Dulu ibu menikah muda,sangat muda mungkin.Seingat saya ibu dulu pernah bercerita kalau alasan memilih menikah muda adalah karena ibu tak mau merepotkan kakek dan nenek.Ibu tak pernah lulus sekolah dasar maka beliau tak memiliki ijazah apapun untuk melamar pekerjaan.Bekerja serabutan pernah beliau lakoni,yang penting dapur rumah bisa tetap ngebul begitu menurut ibu.
Bertemu ayah yang dulu bekerja sebagai buruh konveksi,kemudian menjalin kasih dan akhirnya memutuskan menikah di usia muda,ibu berharap dengan memilih menikah maka beban kakek dan nenek akan berkurang.
Begitulah,ayah dan ibu lalu menikah dengan sangat sederhana.Tak ada resepsi mewah,hanya ada akad nikah yang diselenggarakan di rumah kakek dan nenek yang dulu masih memakai bilik bambu.
Setahun kemudian lalu lahirlah saya,dua tahun kemudian lahirlah Edna-adik pertama saya dan selang enam tahun kemudian adik bungsu saya-Erni pun lahir.Dianugerahi tiga anak perempuan tentu saja membuat ibu dan ayah bahagia tapi disisi lain kekhawatiran pun muncul.Saat itu upah ayah sangat pas-pasan,belum lagi ayah sempat kena phk.Kami akhirnya menjadi beban bagi kakek dan nenek,kembali hidup menumpang.Beruntung,kakek adalah seorang mertua yang pengertian,kakek tak pernah menuntut ayah segera mendapatkan pekerjaan,tak pernah menunjukan sikap tak suka dengan keberadaan kami di rumah beliau,justru kakeklah yang membantu ayah menemukan pekerjaan yang baru.
Tak jauh dari rumah kakek,ada sebuah asrama Akademi Keperawatan yang baru saja dibangun.Kebetulan kakek memiliki kenalan yang bekerja disana,beliaulah yang membantu meyakinkan kenalannya itu kalau menantunya bisa diamanahi untuk menjadi penjaga asrama.
Ayah lalu bekerja disana,meski upahnya sangat minim tapi setidaknya pekerjaan itu memberikan kami tempat tinggal.Pihak asrama memberi izin bagi kami untuk menempati sebuah ruangan yang tak terpakai.Sempit,kecil dan menyesakkan,tiga kata itulah yang bisa digunakan untuk menggambarkan betapa kecilnya 'rumah' kami dulu.kami berlima tinggal dalam ruangan yang lebih cocok digunakan untuk kamar kos seorang mahasiswa.Makan disana,tidur disana,mengerjakan pr disana bahkan bercanda pun disana.Ya disana,di ruangan sempit itu, di ruangan yang biasa kami panggil rumah itu.
Dengan upah penjaga asrama yang pas-pasan,yang cukup hanya untuk makan kami sehari-hari itu,ibu kembali merasa cemas.Ibu tahu kalau penghasilan ayah tak akan pernah cukup,tak akan bisa menyekolahkan ketiga anakanya seperti impian ibu selama ini.Ya,ibu memiliki impian menyekolahkan kami bertiga setinggi-tingginya,minimal setingkat sekolah menengah atas.Ibu tak mau ketiga anaknya kelak seperti beliau,tak berpendidikan,dipandang remeh orang,dihina orang.Ibu ingin kelak kami bisa mengangkat kepala kami,tegak dihadapan orang tanpa merasa malu karena cemoohan orang.
Ibu adalah perempuan kuat bagi saya.Berbagai pekerjaan beliau jalani bahkan jatuh bangun menjadi seorang pedagang keliling pun pernah beliau rasakan.Semua itu tak lain karena besarnya rasa cinta ibu pada kami,ketiga anaknya.
Ibu tidak pernah merasa malu ketika beliau memakai baju yang lusuh selama bertahun-tahun,tak pernah merasa malu karena tak pernah dibelikan perhiasan oleh ayah,bahkan saat ayah sakit parah pun ibu tak malu menjadi tulang punggung keluarga.Beliau tetap bekerja keras,bekerja dengan hati yang ikhlas tanpa pernah mengeluh.
Rasa sayang yang ibu miliki untuk kami menjadi kekuatan terbesar bagi beliau.Berkali-kali ditipu orang,terbelit hutang demi mebayar spp,digusur saat berjualan dan hal-hal buruk lainnya pernah ibu alami.Tapi seingat saya tak pernah ada satu keluhan pun yang terucap dari mulut ibu.Tak pernah sekali pun ibu berputus asa,ibu tetap berjuang dengan keyakinannya.Keyakinan bahwa di masa depan kami bertiga tak boleh hidup semenderita beliau.Dari kecil ibu telah bekerja,beliau tahu rasanya hidup susah seperti apa hingga tak mau dan tak rela jika kelak anaknya merasakan apa yang ia rasakan di masa lampau.
Ibu mendidik kami menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.Kami dididik berjualan dari kecil dan ketika kami menginginkan sesuatu kami dididik untuk tidak meminta,kami dididik untuk mencari uang sendiri agar bisa membeli barang tersebut.Sebut saja berjualan gorengan,berjualan bunga menjelang lebaran,berjualan kue atau berjualan sayuran,semuanya pernah saya jalani.Ibu ingin menanamkan jiwa wirausahawan pada kami,prinsip beliau yang pantang meminta selama masih bisa berusaha mengajari kami untuk tidak menjadi tiga anak manja.
Kini,disaat saya berusia 22 tahun,disaat saya telah bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri secara perlahan saya menyadari betapa banyaknya pengorbanan ibu untuk kami.Tanpa bermaksud mengecilkan peran ayah yang memang ikut berkorban juga,saya merasa bahwa sosok penting dalam hidup saya adalah ibu.Saya bisa berada didepan komputer dan mengetik rangkaian kalimat ini adalah berkat tetes keringat seorang perempuan yang tak hentinya berdoa.Saya menjadi saya yang sekarang adalah karena usaha siang dan malam yang ibu lakoni.
Ibu,impianmu memang belum bisa terwujud sepenuhnya.Kami memang baru bisa lulus dari sekolah meengah atas,belum bisa memberikan kebanggan pada ibu,belum bisa mengatakan pada ibu agar diam di rumah dan biarkan kami yang bekerja.Tapi usaha dan doa ibu selama ini telah menjadi motivasi terbesar bagi kami untuk tak henti belajar dan bekerja untuk ikut serta mewujudkan impian ibu.
Suatu hari bu,ya doakan kami terus agar suatu hari kami bisa merealisasikan impian itu bu.Suatu hari kami akan membuat ibu tersenyum bangga,suatu hari,itu janji kami,bu.
Pelajaran dari Nakki
Nakki alias Naoko Kitashiro,seorang gadis tomboy yang periang.Sejak kecil tinggal bersama kakek dan nenek,jauh dari orangtua dan saudara kembarnya.Pandai,cerdik walau kadang agak badung.Gadis yang supel dan mudah bersahabat dengan siapa saja.
Gambaran tadi adalah gambaran dari karakter favorit saya dalam manga Seito shokun atau yang lebih populer dengan sebutan Popcorn di Indonesia.Manga pertama yang saya baca dulu saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar.Sebuah manga lama yang begitu membekas dalam ingatan.
Persahabatan,persaudaraan,cinta,kerja keras,keihklasan serta pengorbanan menjadi rangkaian pesan yang saya tangkap setelah membaca manga ini.Kisah hidup Nakki yang penuh dengan konflik sebenarnya hanyalah sebuah kisah yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari,namun cara Nakki menghadapi tiap masalahnya dengan cara yang tidak biasa itulah yang membuat manga ini enak untuk terus diikuti sampai akhir.
Karakter Nakki begitu banyak mempengaruhi saya,mungkin bisa dibilang saya berusaha menjadi sekuat Nakki selama ini.Setabah Nakki yang mampu melihat pria yang ia cintai bersanding dengan Maru-kembarannya sendiri.Segigih Nakki dalam meraih impiannya menjadi seorang guru.Dan juga seberani Nakki dalam menghadapi tiap-tiap masalah yang menimpa ia dan sahabat-sahabatnya.
Saya tak ingin menjadi hasil 'copy' dari Nakki karena pastinya itu tak akan bisa.Tapi Nakki sedikit banyaknya telah menjadi bagian dari pribadi saya.Dia adalah salah satu inspirasi bagi saya.Meski fiktif,tak nyata dan hanya rekaan tapi dialah guru saya.
Gambaran tadi adalah gambaran dari karakter favorit saya dalam manga Seito shokun atau yang lebih populer dengan sebutan Popcorn di Indonesia.Manga pertama yang saya baca dulu saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar.Sebuah manga lama yang begitu membekas dalam ingatan.
Persahabatan,persaudaraan,cinta,kerja keras,keihklasan serta pengorbanan menjadi rangkaian pesan yang saya tangkap setelah membaca manga ini.Kisah hidup Nakki yang penuh dengan konflik sebenarnya hanyalah sebuah kisah yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari,namun cara Nakki menghadapi tiap masalahnya dengan cara yang tidak biasa itulah yang membuat manga ini enak untuk terus diikuti sampai akhir.
Karakter Nakki begitu banyak mempengaruhi saya,mungkin bisa dibilang saya berusaha menjadi sekuat Nakki selama ini.Setabah Nakki yang mampu melihat pria yang ia cintai bersanding dengan Maru-kembarannya sendiri.Segigih Nakki dalam meraih impiannya menjadi seorang guru.Dan juga seberani Nakki dalam menghadapi tiap-tiap masalah yang menimpa ia dan sahabat-sahabatnya.
Saya tak ingin menjadi hasil 'copy' dari Nakki karena pastinya itu tak akan bisa.Tapi Nakki sedikit banyaknya telah menjadi bagian dari pribadi saya.Dia adalah salah satu inspirasi bagi saya.Meski fiktif,tak nyata dan hanya rekaan tapi dialah guru saya.
Super Junior dan pesonanya
Let's talk about Korean wave!!
Yups,postingan kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang 'gelombang Korea' yang tengah saya rasakan akhir-akhir ini.Well,mungkin saya termasuk agak telat merasakannya jika dibandingkan dengan Kpopers lainnya yang telah dari bertahun-tahun lalu mulai mengenal Korean wave.
Sebenarnya beberapa tahun yang lalu salah seorang teman pernah memperkenalkan saya pada beberapa boyband Korea sih tapi dulu saya sempat ogah-ogahan mendengarkannya.Bukan karena saya menganggap remeh kualitas musiknya loh tapi dulu bagi saya boyband itu tidak terlalu menarik,saya lebih menyukai musik yang dihasilkan oleh grup band,terutama band-band Jepang.
Ketertarikan saya akan musik Korea mulai muncul sekitar awal tahun ini.Ketika industri musik Indonesia mulai heboh dengan bermunculannya boyband dan girlband.Kemunculan mereka yang menarik perhatian hampir seluruh masayarakat Indonesia terutama remaja-remaja putri membuat keingintahuan saya terhadap boyband meningkat.seperti apa sih sebenarnya boyband itu hingga dalam waktu singkat saja mampu menarik masa penggemar sebanyak ini?
Perbincangan orang-orang yang mengatakan bahwa konsep boyband dan girlband yang muncul sekarang ini banyak mengadopsi gaya Korea menggiring saya pada beberapa nama boyband Korea.Entahlah,ketika melihat boyband Indonesia rasanya ada sebuah ketidakpuasan yang muncul,saya merasa mereka kurang total.Maka dari sinilah saya mulai membuka lagi file-file boyband Korea yang dulu sempat diberikan oleh teman saya.Mencoba mendengarkan dan melihat aksi panggung mereka,berusaha mencari jawaban dari pertanyaan saya.Dan akhirnya rasa penasaran saya terpuaskan.Melihat sebuah boyband Korea yang bernama Super Junior dalam video klip mereka yang berjudul Bonamana membuat saya mengerti 'pesona' yang dimiliki boyband dalam menyihir para penggemarnya.
Boyband yang memiliki jumlah personil cukup banyak ini menjadi sebuah magnet yang menarik perhatian saya secara terus menerus.Wajah yang tampan-tampan,postur tubuh yang proposional memang nampaknya menjadi salah satu daya tarik mereka.Tapi yang membuat rasa kagum saya terhadap boyband ini tumbuh sebenarnya bukanlah hal yang tadi saya sebutkan.
Di Korea,sebelum sebuah boyband atau girlband bisa debut dan dilempar ke pasaran,sebelumnya mereka akan ditraining secara khusus.Baik dari segi vokal maupun koreo.Agensi management mereka akan dengan serius mempersiapkan para artisnya,tak asal debut loh.
Dan Super Junior membuktikan hal tersebut.Boyband yang biasa dikenal dengan singkatan Suju ini memiliki personil-personil yang memang bisa memperlihatkan hasil training mereka.Keahlian para personilnya inilah yang bagi saya terlihat total dibandingkan dengan boyband-boyband yang saya lihat di industri musik Indonesia.
Koreografi rumit yang terlihat kompak dan apik adalah alasan pertama saya ketagihan lagi menyaksikan aksi panggung mereka.Kesukaan saya terhadap dunia tari membuat saya kagum dengan cara mereka menari yang tidak setangah-setengah itu.Eunhyuk,leader dance boyband ini benar-benar memanjakan mata saya dengan gerakan poppingnya.Pinggang,tangan,kaki bahkan kepalanya benar-benar bergerak seirama dengan hentakan musik.Dia memiliki kepekaan musik yang sangat bagus sehingga tarian yang ia bawakan tidak menjadi gerakan-gerakan yang out of the beat.Kekaguman lainnya pun saya tujukan pada Shindong,personil Suju dengan postur agak gemuk ini pun memikat saya dengan gerakan tubuhnya.Wow! Baru kali ini saya melihat ada seorang pria berperawakan gemuk dengan lihainya dapat melakukan gerakan-gerakan tarian yang menuntut kelenturan tubuh.Beberapa teman saya yang memiliki berat badan agak berlebih sering mengeluh tidak mau menari karena badan mereka yang cukup besar,mereka merasa tak bisa selentur penari lain yang berbadan ramping.Tapi Shindong mampu membuktikan bahwa menari tak berkaitan dengan berat badan.Pokoknya Shindong membuat saya yakin kalau menari itu bisa dilakukan oleh siapa saja.Dua jempol deh buat dia!
Kalau dari segi vokal yang saya idolakan adalah Yesung dan Ryeowok.Suara dua pria ini pernah membuat saya merinding dan hampir menangis (yup..saya ini gampang menangis kalau mendengar lagu sedih).Nyawa yang mereka beri pada lagu yang mereka bawakan seakan-akan hidup dan membuat saya bisa merasakan kesedihan lagu tersebut walaupun pada kenyataannya saya sama sekali tidak mengerti dengan bahasa korea loh.
Tapi dari semua personil Suju yang dianugerahi wajah tampan,imut serta suara bagus dan badan yang lentur terselip seorang pria yang memiliki wajah yang bagi saya sih unik.Wajah yang selama beberapa hari ini tidak bisa saya lupakan(haha..agak lebay yah).Pemilik wajah itu adalah Park Jung Soo alias Leeteuk.
Leeteuk adalah member favorit saya.Bukan karena suaranya atau karena gerakan dancenya tapi karena melihat dua sisi yang ia miliki.Dia terlihat periang,sering melucu tapi sebenarnya adalah pribadi yang sangat pendiam.Hyung yang baik buat member-member yang lain deh.Well,memang alasannya tidak berhubungan dengan seni sama sekali sih ya tapi entah kenapa teukie begitu mempesona di mata saya.Sosok pribadi yang hangat dan baik pada semua orang (walaupun dia terkenal paling pelit..hehe).Seorang yang suka melucu dan menghibur orang lain ketika sedih,mungkin karena itulah dia dijuluki malaikat tak bersayap ya.
Begitulah Suju bagi saya yang baru terkena 'demam' Korea ini.Boyband dengan sejuta pesonanya yang memang bisa membuat mata-mata kaum hawa tak berkedip saat menyaksikan aksi panggungnya.Saya memang bukanlah elf (sebutan para penggemar Suju),tapi kini kata kagum tak akan pernah terlepas dari boyband terbitan SM Entertainment ini.
Yups,postingan kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang 'gelombang Korea' yang tengah saya rasakan akhir-akhir ini.Well,mungkin saya termasuk agak telat merasakannya jika dibandingkan dengan Kpopers lainnya yang telah dari bertahun-tahun lalu mulai mengenal Korean wave.
Sebenarnya beberapa tahun yang lalu salah seorang teman pernah memperkenalkan saya pada beberapa boyband Korea sih tapi dulu saya sempat ogah-ogahan mendengarkannya.Bukan karena saya menganggap remeh kualitas musiknya loh tapi dulu bagi saya boyband itu tidak terlalu menarik,saya lebih menyukai musik yang dihasilkan oleh grup band,terutama band-band Jepang.
Ketertarikan saya akan musik Korea mulai muncul sekitar awal tahun ini.Ketika industri musik Indonesia mulai heboh dengan bermunculannya boyband dan girlband.Kemunculan mereka yang menarik perhatian hampir seluruh masayarakat Indonesia terutama remaja-remaja putri membuat keingintahuan saya terhadap boyband meningkat.seperti apa sih sebenarnya boyband itu hingga dalam waktu singkat saja mampu menarik masa penggemar sebanyak ini?
Perbincangan orang-orang yang mengatakan bahwa konsep boyband dan girlband yang muncul sekarang ini banyak mengadopsi gaya Korea menggiring saya pada beberapa nama boyband Korea.Entahlah,ketika melihat boyband Indonesia rasanya ada sebuah ketidakpuasan yang muncul,saya merasa mereka kurang total.Maka dari sinilah saya mulai membuka lagi file-file boyband Korea yang dulu sempat diberikan oleh teman saya.Mencoba mendengarkan dan melihat aksi panggung mereka,berusaha mencari jawaban dari pertanyaan saya.Dan akhirnya rasa penasaran saya terpuaskan.Melihat sebuah boyband Korea yang bernama Super Junior dalam video klip mereka yang berjudul Bonamana membuat saya mengerti 'pesona' yang dimiliki boyband dalam menyihir para penggemarnya.
Boyband yang memiliki jumlah personil cukup banyak ini menjadi sebuah magnet yang menarik perhatian saya secara terus menerus.Wajah yang tampan-tampan,postur tubuh yang proposional memang nampaknya menjadi salah satu daya tarik mereka.Tapi yang membuat rasa kagum saya terhadap boyband ini tumbuh sebenarnya bukanlah hal yang tadi saya sebutkan.
Di Korea,sebelum sebuah boyband atau girlband bisa debut dan dilempar ke pasaran,sebelumnya mereka akan ditraining secara khusus.Baik dari segi vokal maupun koreo.Agensi management mereka akan dengan serius mempersiapkan para artisnya,tak asal debut loh.
Dan Super Junior membuktikan hal tersebut.Boyband yang biasa dikenal dengan singkatan Suju ini memiliki personil-personil yang memang bisa memperlihatkan hasil training mereka.Keahlian para personilnya inilah yang bagi saya terlihat total dibandingkan dengan boyband-boyband yang saya lihat di industri musik Indonesia.
Koreografi rumit yang terlihat kompak dan apik adalah alasan pertama saya ketagihan lagi menyaksikan aksi panggung mereka.Kesukaan saya terhadap dunia tari membuat saya kagum dengan cara mereka menari yang tidak setangah-setengah itu.Eunhyuk,leader dance boyband ini benar-benar memanjakan mata saya dengan gerakan poppingnya.Pinggang,tangan,kaki bahkan kepalanya benar-benar bergerak seirama dengan hentakan musik.Dia memiliki kepekaan musik yang sangat bagus sehingga tarian yang ia bawakan tidak menjadi gerakan-gerakan yang out of the beat.Kekaguman lainnya pun saya tujukan pada Shindong,personil Suju dengan postur agak gemuk ini pun memikat saya dengan gerakan tubuhnya.Wow! Baru kali ini saya melihat ada seorang pria berperawakan gemuk dengan lihainya dapat melakukan gerakan-gerakan tarian yang menuntut kelenturan tubuh.Beberapa teman saya yang memiliki berat badan agak berlebih sering mengeluh tidak mau menari karena badan mereka yang cukup besar,mereka merasa tak bisa selentur penari lain yang berbadan ramping.Tapi Shindong mampu membuktikan bahwa menari tak berkaitan dengan berat badan.Pokoknya Shindong membuat saya yakin kalau menari itu bisa dilakukan oleh siapa saja.Dua jempol deh buat dia!
Kalau dari segi vokal yang saya idolakan adalah Yesung dan Ryeowok.Suara dua pria ini pernah membuat saya merinding dan hampir menangis (yup..saya ini gampang menangis kalau mendengar lagu sedih).Nyawa yang mereka beri pada lagu yang mereka bawakan seakan-akan hidup dan membuat saya bisa merasakan kesedihan lagu tersebut walaupun pada kenyataannya saya sama sekali tidak mengerti dengan bahasa korea loh.
Tapi dari semua personil Suju yang dianugerahi wajah tampan,imut serta suara bagus dan badan yang lentur terselip seorang pria yang memiliki wajah yang bagi saya sih unik.Wajah yang selama beberapa hari ini tidak bisa saya lupakan(haha..agak lebay yah).Pemilik wajah itu adalah Park Jung Soo alias Leeteuk.
Leeteuk adalah member favorit saya.Bukan karena suaranya atau karena gerakan dancenya tapi karena melihat dua sisi yang ia miliki.Dia terlihat periang,sering melucu tapi sebenarnya adalah pribadi yang sangat pendiam.Hyung yang baik buat member-member yang lain deh.Well,memang alasannya tidak berhubungan dengan seni sama sekali sih ya tapi entah kenapa teukie begitu mempesona di mata saya.Sosok pribadi yang hangat dan baik pada semua orang (walaupun dia terkenal paling pelit..hehe).Seorang yang suka melucu dan menghibur orang lain ketika sedih,mungkin karena itulah dia dijuluki malaikat tak bersayap ya.
Begitulah Suju bagi saya yang baru terkena 'demam' Korea ini.Boyband dengan sejuta pesonanya yang memang bisa membuat mata-mata kaum hawa tak berkedip saat menyaksikan aksi panggungnya.Saya memang bukanlah elf (sebutan para penggemar Suju),tapi kini kata kagum tak akan pernah terlepas dari boyband terbitan SM Entertainment ini.
Ketika sahabat hanyalah kata
Terbiasa saling sapa,bercerita tentang banyak hal setiap harinya.Dari teman lalu berubah menjadi sahabat,saling menyemangati dalam menjalani keseharian.Lantas semuanya retak,membuat sebuah jarak yang meski tak terlihat tapi terasa.Kata sahabat hanya sebatas kata,karena kita sama seperti saat pertama dulu kenal,penuh basa-basi dalam tiap percakapan.Renggang,dingin dalam tiap kalimat,seakan kalimat-kalimat itu hanya sebuah keterpaksaan,keharusan menyapa agar tetap dapat dipanggil sahabat.
Kita dekat tapi jauh.Pertemanan dan persahabatan itu masih ada tapi nampak semu.Saya salah,saya akui itu,karena terlalu cepatnya saya menuruti emosi hingga akhirnya mengacaukan persahabatan kita.Dan mungkin ini memang yang terbaik untuk kita,berusaha memaafkan satu sama lainnya dengan memberi jarak,karena sepertinya terlalu dekat memang tak akan baik untuk kondisi pertemanan kita yang sekarang.
Kawan,saya memang masih tetap bisa menjalani hari demi hari tanpa adanya kehadiran mu,tapi tak sama lagi,hari terasa melambat.24 jam yang biasa terlewati tanpa terasa karena asyiknya obrolan kini seakan menyiksa,detik terlalu lama berganti,hingga akhirnya saya merasa kata sahabat hanya gumaman belaka.
Kita dekat tapi jauh.Pertemanan dan persahabatan itu masih ada tapi nampak semu.Saya salah,saya akui itu,karena terlalu cepatnya saya menuruti emosi hingga akhirnya mengacaukan persahabatan kita.Dan mungkin ini memang yang terbaik untuk kita,berusaha memaafkan satu sama lainnya dengan memberi jarak,karena sepertinya terlalu dekat memang tak akan baik untuk kondisi pertemanan kita yang sekarang.
Kawan,saya memang masih tetap bisa menjalani hari demi hari tanpa adanya kehadiran mu,tapi tak sama lagi,hari terasa melambat.24 jam yang biasa terlewati tanpa terasa karena asyiknya obrolan kini seakan menyiksa,detik terlalu lama berganti,hingga akhirnya saya merasa kata sahabat hanya gumaman belaka.
Kenangan dan saya
Kenangan,sisa-sisa dari masa lampau yang terbawa hingga masa kini.Baik atau buruk tetaplah kenangan,sesuatu yang terkenang dalam ingatan.
Lebih dari duapuluh tahun hidup maka rajutan benang kenangan saya pun terus memanjang.Karena tiap detik yang terlewat disaat yang lalu pada akhirnya akan terajut menjadi sebuah memori,sejarah dalam hidup saya.Kadang tawa bergema saat kotak memori itu terbuka dan memperlihatkan betapa konyol dan bodohnya saya pada masa silam.Namun terkadang tangis pun pecah dengan sendirinya ketika bayangan kesedihan menyinggung sisi sentimen dalam hati saya.
Sebuah gedung bercat merah dan putih yang saya lewati di pagi ini membawa saya pada sosok saya sekian tahun kebelakang,seorang gadis tomboy berusia sepuluh tahun yang berlari mengejar bola diantara segerombol anak-anak lelaki.Peluh menetes tapi tak dihiraukan,seragam putihnya yang terlihat kebesaran mulai berubah warna kecoklatan akibat sering terjatuh dan bersinggungan dengan pemain lawan.Ia bukan striker yang baik karena jarang bisa memasukan bola,ia lebih suka berada dibelakang,menjadi back yang siap menghadang penyerang-penyerang tim lawan.Tak jarang ia pulang dengan wajah cemberut karena mengalami kekalahan.Tapi baginya sepakbola tetaplah kawan baiknya,karena hanya dengan memainkannya ia akan lupa bahwa ia tak memiliki kawan perempuan jika berada dalam kelas.Ya,ia telah lama terasing,menjadi satu-satunya yang tak berteman dengan gadis lain dalam kelasnya.Mereka meninggalkannya untuk sebuah alasan yang bagi orang dewasa adalah sebuah alasan menggelikan.Disaat gadis-gadis lainnya bergerombol untuk makan di kantin,ia hanya akan sendirian dalam kelas karena tak ada yang mengajaknya.Ia dianggap ada hanya untuk dimaki didepan kelas.
Belasan tahun berlalu,mereka yang dulu memaki pun kini sama dewasanya dengan saya,dapat berpikir lebih bijak lagi.Saat berjumpa kami saling merangkul,melupakan masa-masa kekanakan yang dulu pernah kami buat bersama.
Itu salah satu kenangan saya,tak terlalu indah mungkin tapi tetaplah sebuah kenangan.Darinya saya belajar,memperbaiki diri terus untuk menjadi sosok yang lebih baik.Jika boleh jujur untuk kenangan diatas,sakit karena diasingkan pun masih ada tapi jika terus berkutat dengan sakitnya maka tak akan ada habisnya,hanya keburukan yang akan saya lihat.Kenangan itu telah terbuat sekian tahun yang lalu,tertulis dalam salah satu halaman buku hidup saya.Tugas saya bukanlah menatap terus halaman itu tapi membuka halaman untuk diisi kenangan baru.
Manusia hidup salah satunya untuk membuat kenangan,membuat pesan bagi masa depan,sekalipun itu adalah sebuah keburukan.
Lebih dari duapuluh tahun hidup maka rajutan benang kenangan saya pun terus memanjang.Karena tiap detik yang terlewat disaat yang lalu pada akhirnya akan terajut menjadi sebuah memori,sejarah dalam hidup saya.Kadang tawa bergema saat kotak memori itu terbuka dan memperlihatkan betapa konyol dan bodohnya saya pada masa silam.Namun terkadang tangis pun pecah dengan sendirinya ketika bayangan kesedihan menyinggung sisi sentimen dalam hati saya.
Sebuah gedung bercat merah dan putih yang saya lewati di pagi ini membawa saya pada sosok saya sekian tahun kebelakang,seorang gadis tomboy berusia sepuluh tahun yang berlari mengejar bola diantara segerombol anak-anak lelaki.Peluh menetes tapi tak dihiraukan,seragam putihnya yang terlihat kebesaran mulai berubah warna kecoklatan akibat sering terjatuh dan bersinggungan dengan pemain lawan.Ia bukan striker yang baik karena jarang bisa memasukan bola,ia lebih suka berada dibelakang,menjadi back yang siap menghadang penyerang-penyerang tim lawan.Tak jarang ia pulang dengan wajah cemberut karena mengalami kekalahan.Tapi baginya sepakbola tetaplah kawan baiknya,karena hanya dengan memainkannya ia akan lupa bahwa ia tak memiliki kawan perempuan jika berada dalam kelas.Ya,ia telah lama terasing,menjadi satu-satunya yang tak berteman dengan gadis lain dalam kelasnya.Mereka meninggalkannya untuk sebuah alasan yang bagi orang dewasa adalah sebuah alasan menggelikan.Disaat gadis-gadis lainnya bergerombol untuk makan di kantin,ia hanya akan sendirian dalam kelas karena tak ada yang mengajaknya.Ia dianggap ada hanya untuk dimaki didepan kelas.
Belasan tahun berlalu,mereka yang dulu memaki pun kini sama dewasanya dengan saya,dapat berpikir lebih bijak lagi.Saat berjumpa kami saling merangkul,melupakan masa-masa kekanakan yang dulu pernah kami buat bersama.
Itu salah satu kenangan saya,tak terlalu indah mungkin tapi tetaplah sebuah kenangan.Darinya saya belajar,memperbaiki diri terus untuk menjadi sosok yang lebih baik.Jika boleh jujur untuk kenangan diatas,sakit karena diasingkan pun masih ada tapi jika terus berkutat dengan sakitnya maka tak akan ada habisnya,hanya keburukan yang akan saya lihat.Kenangan itu telah terbuat sekian tahun yang lalu,tertulis dalam salah satu halaman buku hidup saya.Tugas saya bukanlah menatap terus halaman itu tapi membuka halaman untuk diisi kenangan baru.
Manusia hidup salah satunya untuk membuat kenangan,membuat pesan bagi masa depan,sekalipun itu adalah sebuah keburukan.
Anime Quotes
If you think of someone's good qualities as the umeboshi in an onigiri, it's as if their qualities are stuck to their back! People around the world are like onigiri. Everyone has an umeboshi with a different shape and color and flavor. But because it's stuck on their back, they might not be able to see their umeboshi. Maybe the reason people get jealous of each other, is because they can see so clearly the umeboshi on other people's backs. I can see them, too. I can see them perfectly. There's an amazing umeboshi on your back, Kyo-kun.(Tohru Honda-Furuba)
Why does... my heart... hurt so much? Like it's being torn apart. Is it because my outrageous wish... is so disheartening? Is it because I know... that some wishes... don't come true? Even so... I wish. I wish... (Tohru Honda-Furuba)
My mom told me, it's better to trust people than to doubt them. She said that people aren't born with kind hearts. When we're born, all we have are desires for food and material things. Selfish instincts, I guess. But she said that kindness is something that grows inside of each person's body, but it's up to us to nurture that kindness in our hearts. That's why kindness is different for every person.(Tohru Honda-Furuba)
Maybe I'm not perfect. Maybe I have a long way to go. But someday... someday I'll be able to stand and walk on my own. Without hurting anyone... and without being a burden.(Kyo Sohma-Furuba)
I'm not Superman. So I can't say anything big like I'll protect everyone on Earth. I'm not a modest guy who will say it's enough if I can protect as many people as my two hands can handle either. I want to protect... a mountain-load of people.(Ichigo Kurosaki-Bleach)
Move one inch from here... just try coming after me... and I will never forgive you!(Rukia Kuchiki-Bleach)
That sweat, those wounds, and this warmth. These are not illusions. They are real. Now I want to protect what's real, not illusions.(Himura Kenshin-Samurai X)
Why does... my heart... hurt so much? Like it's being torn apart. Is it because my outrageous wish... is so disheartening? Is it because I know... that some wishes... don't come true? Even so... I wish. I wish... (Tohru Honda-Furuba)
My mom told me, it's better to trust people than to doubt them. She said that people aren't born with kind hearts. When we're born, all we have are desires for food and material things. Selfish instincts, I guess. But she said that kindness is something that grows inside of each person's body, but it's up to us to nurture that kindness in our hearts. That's why kindness is different for every person.(Tohru Honda-Furuba)
Maybe I'm not perfect. Maybe I have a long way to go. But someday... someday I'll be able to stand and walk on my own. Without hurting anyone... and without being a burden.(Kyo Sohma-Furuba)
I'm not Superman. So I can't say anything big like I'll protect everyone on Earth. I'm not a modest guy who will say it's enough if I can protect as many people as my two hands can handle either. I want to protect... a mountain-load of people.(Ichigo Kurosaki-Bleach)
Move one inch from here... just try coming after me... and I will never forgive you!(Rukia Kuchiki-Bleach)
That sweat, those wounds, and this warmth. These are not illusions. They are real. Now I want to protect what's real, not illusions.(Himura Kenshin-Samurai X)
Menyerah kalah
Akhirnya saya putuskan untuk mundur dan mengakui kekalahan.Saya memang ingin menang,ingin terus berjuang sampai apa yang saya inginkan saya peroleh.Tapi rasanya semakin saya ngotot maju malah membuat saya terluka.Tebing yang saya daki terlalu terjal untuk kemampuan saya yang hanya alakadarnya ini.
Sekian hari yang lalu saya merasa seperti seorang bodoh,berkata tak akan apa-apa,berusaha menggembirakan hati agar mau menghapus airmata dan melanjutkan langkah yang sempat terhenti.Ah,tapi ternyata semakin airmata itu dihapus justru semakin deras airmata itu mengalir.Sesak menyeruak dalam dada,membuat semua emosi saya terkurung hingga tak bisa lepas dari dalam diri.Pengingkaran demi pengingkaran terus lahir.Menjadi seorang pembohong yang terus membohongi diri sendiri dan terus berujar bahwa perjuangan belum berakhir,apa yang diinginkan masih mungkin diraih.Nyatanya kesempatan yang saya miliki hanya 0,01 persen.Bisa apa saya dengan sisa 0,01 persen itu?Merendahkan diri serendah kemungkinan itu?
Ah,tidak.Ini salah,bukan seperti ini seharusnya.Apa yang saya inginkan memang sepertinya tak teraih oleh saya.Itu terlalu tinggi,saya seperti seekor anak bebek yang berharap memiliki induk seekor angsa.Terlalu mengada-ada,penuh khayalan serta imajinasi penipu mata.
Saya harus bangun,sadar dari semua kesemuan yang saya buat sendiri.Tak boleh seperti ini terus menerus,tak boleh memaksakan,karena sejatinya memang saya tak pantas untuk mendapatkannya.Lebih baik mundur teratur,turun dari arena kompetisi.Biar orang yang memiliki kompetensi lebih dari saya yang mendapatkannya.
Mungkin begini lebih baik,mengakui bahwa ada yang lebih berhak atas apa yang saya inginkan.Melupakan sesuatu yang memang dari awal bukanlah milik saya,dengan begini mungkin rasa sesak yang saya rasa selama beberapa hari ini akan hilang berganti sebuah kelegaan.
Anggap saya pengecut atau katakan saya pecundang.Tapi untuk yang satu ini memang saya tak bisa lagi untuk maju.Bendera putih harus saya kibarkan,menyerah,pasrah atas semua yang memang telah jadi ketentuan
Ikhtiar telah saya lakukan semampu saya dan jika memang akhirnya menyerah adalah yang terbaik untuk saya maka saya rela.Sepertinya ada yang lebih bisa diamanahi,dan sayangnya orang itu bukanlah saya.
Benar mungkin apa kata orang-orang bijak,apa yang kamu inginkan belum tentu apa yang kamu butuhkan.Bisa jadi yang saya inginkan hanyalah sebuah keinginan yang bisa hilang dalam sekejap bukan sebuah keharusan dalam hidup.
Saya menyerah,saya kalah tapi untuk mendapatkan kemenangan lainnya dihari esok.
Sekian hari yang lalu saya merasa seperti seorang bodoh,berkata tak akan apa-apa,berusaha menggembirakan hati agar mau menghapus airmata dan melanjutkan langkah yang sempat terhenti.Ah,tapi ternyata semakin airmata itu dihapus justru semakin deras airmata itu mengalir.Sesak menyeruak dalam dada,membuat semua emosi saya terkurung hingga tak bisa lepas dari dalam diri.Pengingkaran demi pengingkaran terus lahir.Menjadi seorang pembohong yang terus membohongi diri sendiri dan terus berujar bahwa perjuangan belum berakhir,apa yang diinginkan masih mungkin diraih.Nyatanya kesempatan yang saya miliki hanya 0,01 persen.Bisa apa saya dengan sisa 0,01 persen itu?Merendahkan diri serendah kemungkinan itu?
Ah,tidak.Ini salah,bukan seperti ini seharusnya.Apa yang saya inginkan memang sepertinya tak teraih oleh saya.Itu terlalu tinggi,saya seperti seekor anak bebek yang berharap memiliki induk seekor angsa.Terlalu mengada-ada,penuh khayalan serta imajinasi penipu mata.
Saya harus bangun,sadar dari semua kesemuan yang saya buat sendiri.Tak boleh seperti ini terus menerus,tak boleh memaksakan,karena sejatinya memang saya tak pantas untuk mendapatkannya.Lebih baik mundur teratur,turun dari arena kompetisi.Biar orang yang memiliki kompetensi lebih dari saya yang mendapatkannya.
Mungkin begini lebih baik,mengakui bahwa ada yang lebih berhak atas apa yang saya inginkan.Melupakan sesuatu yang memang dari awal bukanlah milik saya,dengan begini mungkin rasa sesak yang saya rasa selama beberapa hari ini akan hilang berganti sebuah kelegaan.
Anggap saya pengecut atau katakan saya pecundang.Tapi untuk yang satu ini memang saya tak bisa lagi untuk maju.Bendera putih harus saya kibarkan,menyerah,pasrah atas semua yang memang telah jadi ketentuan
Ikhtiar telah saya lakukan semampu saya dan jika memang akhirnya menyerah adalah yang terbaik untuk saya maka saya rela.Sepertinya ada yang lebih bisa diamanahi,dan sayangnya orang itu bukanlah saya.
Benar mungkin apa kata orang-orang bijak,apa yang kamu inginkan belum tentu apa yang kamu butuhkan.Bisa jadi yang saya inginkan hanyalah sebuah keinginan yang bisa hilang dalam sekejap bukan sebuah keharusan dalam hidup.
Saya menyerah,saya kalah tapi untuk mendapatkan kemenangan lainnya dihari esok.
Dan saya memang seperti ini
Seorang gadis berusia 22 tahun.Memiliki tinggi tak lebih dari 150 cm ditambah lagi dengan berat yang hanya 40 kg.Mungil,imut,kecil,pendek,mini,kerdil,kurcaci dan banyak kata lainnya lagi yang biasa saya dengar untuk menggambarkan perawakan saya.
Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara dengan kesemuanya adalah perempuan,perbandingan adalah hal wajar yang saya terima dari masyarakat sekitar.Apalagi jarak usia kami terpaut tak terlalu jauh,hanya dua tahun serta enam tahun.
Tubuh saya yang memang paling kecil diantara semua saudara saya selalu menjadi objek pembanding.Orang yang baru pertama kali berkenalan dengan keluarga kami pasti akan menyangka saya sebagai si bungsu,yah ukuran tubuh yang sangat irit ini selalu berhasil mengecoh mereka.Bagi saya ini adalah sebuah keuntungan,paling tidak saya masih bisa berdandan seperti anak SMA tanpa ada orang yang curiga dengan usia saya yang sebenarnya.Jadi saya sangat menikmati 'anugerah' kecilnya tubuh saya.Tak pernah ambil pusing serta berniat untuk membeli obat peninggi badan,saya merasa cukup dengan saya yang sekarang.
Tapi sebagai seorang manusia yang memiliki perasaan,terkadang ada masa dimana hati ini merasakan sebuah kekecewaan terhadap pandangan orang akan tubuh saya yang kecil ini.Satu masa dimana saya ingin menangis,bukan untuk menangisi fisik saya tapi menangisi toleransi yang terasa mati.
Dulu,ketika saya praktek kerja industri disebuah koperasi sekolah militer.Seorang pembimbing saya yang memiliki tubuh tinggi nan tegap pernah bertanya pada saya.Pertanyaan yang membuat saya berani mengangkat kepala saya untuk menatap mata beliau (saya terbiasa menunduk jika berhadapan dengan orang yang saya hormati).Beliau bertanya 'berapakah pendek saya?' sekali lagi PENDEK.Yah,bukan bertanya berapa tinggi saya seperti pertanyaan standar lainnya yang saya sering temui dalam formulir-formulir pendaftaran,tapi berapa pendek saya?
Saat itu saya berpikir mungkin beliau sedang bercanda,jadi saya tanggapi dengan tak terlalu serius.Sayangnya ucapan beliau yang berikutnya semakin menguatkan tanda keseriusannya.Ia memojokkan saya dengan fisik saya yang kurang ini.Bukan sebuah caci maki memang tapi cukup membuat saya mengurut dada,menyabarkan diri agar tak terbawa emosi lalu menangis.
Semenjak itu rasa hormat saya pada pembimbing saya sedikit berkurang,bukan benci hanya ada penurunan kadar penghormatan.Usia beliau yang cukup matang saya pikir akan membuat cara berpikirnya lebih dewasa,mampu menghargai orang tanpa memandang lahiriah belaka
Saya tak menyesal terlahir menjadi saya yang sekarang karena toh saya bisa dikatakan lebih beruntung dibandingkan dengan teman-teman saya yang memiliki lebih banyak kekurangan dari saya.Teman-teman yang dengan keterbatasan fisiknya malah sangat percaya diri dan bisa lebih hebat dari orang-orang yang selama ini bisanya hanya mengejek saja.Saya hanya menyesalkan bahwa menghargai manusia tanpa menilai fisik yang selama sekian tahun diajarkan dalam pelajaran pendidikan kewarganegaraan malah terasa hanya sebuah slogan.Terpampang dibanyak tempat tapi bukti nyatanya tak ada.
Beginilah saya,seperti inilah fisik saya dan saya bangga akan diri saya.Mereka boleh memandang rendah saya dan mengatai saya si kerdil tapi saya tahu bahwa saya tak sebatas kata kerdil,ada kelebihan lain yang juga saya miliki.
Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara dengan kesemuanya adalah perempuan,perbandingan adalah hal wajar yang saya terima dari masyarakat sekitar.Apalagi jarak usia kami terpaut tak terlalu jauh,hanya dua tahun serta enam tahun.
Tubuh saya yang memang paling kecil diantara semua saudara saya selalu menjadi objek pembanding.Orang yang baru pertama kali berkenalan dengan keluarga kami pasti akan menyangka saya sebagai si bungsu,yah ukuran tubuh yang sangat irit ini selalu berhasil mengecoh mereka.Bagi saya ini adalah sebuah keuntungan,paling tidak saya masih bisa berdandan seperti anak SMA tanpa ada orang yang curiga dengan usia saya yang sebenarnya.Jadi saya sangat menikmati 'anugerah' kecilnya tubuh saya.Tak pernah ambil pusing serta berniat untuk membeli obat peninggi badan,saya merasa cukup dengan saya yang sekarang.
Tapi sebagai seorang manusia yang memiliki perasaan,terkadang ada masa dimana hati ini merasakan sebuah kekecewaan terhadap pandangan orang akan tubuh saya yang kecil ini.Satu masa dimana saya ingin menangis,bukan untuk menangisi fisik saya tapi menangisi toleransi yang terasa mati.
Dulu,ketika saya praktek kerja industri disebuah koperasi sekolah militer.Seorang pembimbing saya yang memiliki tubuh tinggi nan tegap pernah bertanya pada saya.Pertanyaan yang membuat saya berani mengangkat kepala saya untuk menatap mata beliau (saya terbiasa menunduk jika berhadapan dengan orang yang saya hormati).Beliau bertanya 'berapakah pendek saya?' sekali lagi PENDEK.Yah,bukan bertanya berapa tinggi saya seperti pertanyaan standar lainnya yang saya sering temui dalam formulir-formulir pendaftaran,tapi berapa pendek saya?
Saat itu saya berpikir mungkin beliau sedang bercanda,jadi saya tanggapi dengan tak terlalu serius.Sayangnya ucapan beliau yang berikutnya semakin menguatkan tanda keseriusannya.Ia memojokkan saya dengan fisik saya yang kurang ini.Bukan sebuah caci maki memang tapi cukup membuat saya mengurut dada,menyabarkan diri agar tak terbawa emosi lalu menangis.
Semenjak itu rasa hormat saya pada pembimbing saya sedikit berkurang,bukan benci hanya ada penurunan kadar penghormatan.Usia beliau yang cukup matang saya pikir akan membuat cara berpikirnya lebih dewasa,mampu menghargai orang tanpa memandang lahiriah belaka
Saya tak menyesal terlahir menjadi saya yang sekarang karena toh saya bisa dikatakan lebih beruntung dibandingkan dengan teman-teman saya yang memiliki lebih banyak kekurangan dari saya.Teman-teman yang dengan keterbatasan fisiknya malah sangat percaya diri dan bisa lebih hebat dari orang-orang yang selama ini bisanya hanya mengejek saja.Saya hanya menyesalkan bahwa menghargai manusia tanpa menilai fisik yang selama sekian tahun diajarkan dalam pelajaran pendidikan kewarganegaraan malah terasa hanya sebuah slogan.Terpampang dibanyak tempat tapi bukti nyatanya tak ada.
Beginilah saya,seperti inilah fisik saya dan saya bangga akan diri saya.Mereka boleh memandang rendah saya dan mengatai saya si kerdil tapi saya tahu bahwa saya tak sebatas kata kerdil,ada kelebihan lain yang juga saya miliki.
Pada suatu musim
Kamu,pria yang Tuhan ciptakan untuk menjadi pemimpin ku kelak.Dimanakah dirimu?Kita tertulis untuk bersama namun rentangan benang takdir memisahkan kita untuk sementara.Ada sekian masa dan jarak yang harus kita tempuh untuk dapat menikmati manisnya perjumpaan.Hanya meyakini bahwa segalanya akan indah pada waktunya itu yang bisa ku lakukan.
Aku merindukan saat itu,saat ketika aku akan tertunduk malu ketika pandangan mu tertuju pada ku.Aku merindukan saat itu,saat dimana dirimu meminang ku menjadi kekasih seumur hidup mu.Mengucapkan janji pada ayah ku,berikrar bahwa kamu akan membahagiakan ku.Berdua mendayung perahu kehidupan yang kita rakit bersama.Menahan hempasan angin,melawan arus yang bersiap menenggelamkan perahu sederhana kita,hingga menuju pantai yang kita idamkan dengan tetap mendayung penuh lelah bersama-sama.
Aku ingin menjadi kekasih mu tak sebatas dunia yang sekejap mata ini.Surga,menjadi rumah yang ku dambakan menjadi pelindung kita kelak.Aku ingin menjadi bidadari untuk mu,melayani mu kembali.Ya,berharap bahwa jalinan yang kita punya menjadi sebuah keabadian.Berlebihan kah keinginan ku ini?
Duhai engkau calon pendamping ku!
Aku menunggu mu.Menunggu layaknya seorang pengembara yang tersesat di dataran gurun berpasir,bagai pagi yang menanti sinar sang mentari,dan seperti Hawa yang tak sabar berjumpa dengan Adam.
Pertemuan kita.Ya,suatu hari nanti pada suatu musim di bumi ini.
Aku merindukan saat itu,saat ketika aku akan tertunduk malu ketika pandangan mu tertuju pada ku.Aku merindukan saat itu,saat dimana dirimu meminang ku menjadi kekasih seumur hidup mu.Mengucapkan janji pada ayah ku,berikrar bahwa kamu akan membahagiakan ku.Berdua mendayung perahu kehidupan yang kita rakit bersama.Menahan hempasan angin,melawan arus yang bersiap menenggelamkan perahu sederhana kita,hingga menuju pantai yang kita idamkan dengan tetap mendayung penuh lelah bersama-sama.
Aku ingin menjadi kekasih mu tak sebatas dunia yang sekejap mata ini.Surga,menjadi rumah yang ku dambakan menjadi pelindung kita kelak.Aku ingin menjadi bidadari untuk mu,melayani mu kembali.Ya,berharap bahwa jalinan yang kita punya menjadi sebuah keabadian.Berlebihan kah keinginan ku ini?
Duhai engkau calon pendamping ku!
Aku menunggu mu.Menunggu layaknya seorang pengembara yang tersesat di dataran gurun berpasir,bagai pagi yang menanti sinar sang mentari,dan seperti Hawa yang tak sabar berjumpa dengan Adam.
Pertemuan kita.Ya,suatu hari nanti pada suatu musim di bumi ini.


