Rss Feed

Dan saya memang seperti ini

Seorang gadis berusia 22 tahun.Memiliki tinggi tak lebih dari 150 cm ditambah lagi dengan berat yang hanya 40 kg.Mungil,imut,kecil,pendek,mini,kerdil,kurcaci dan banyak kata lainnya lagi yang biasa saya dengar untuk menggambarkan perawakan saya.
Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara dengan kesemuanya adalah perempuan,perbandingan adalah hal wajar yang saya terima dari masyarakat sekitar.Apalagi jarak usia kami terpaut tak terlalu jauh,hanya dua tahun serta enam tahun.

Tubuh saya yang memang paling kecil diantara semua saudara saya selalu menjadi objek pembanding.Orang yang baru pertama kali berkenalan dengan keluarga kami pasti akan menyangka saya sebagai si bungsu,yah ukuran tubuh yang sangat irit ini selalu berhasil mengecoh mereka.Bagi saya ini adalah sebuah keuntungan,paling tidak saya masih bisa berdandan seperti anak SMA tanpa ada orang yang curiga dengan usia saya yang sebenarnya.Jadi saya sangat menikmati 'anugerah' kecilnya tubuh saya.Tak pernah ambil pusing serta berniat untuk membeli obat peninggi badan,saya merasa cukup dengan saya yang sekarang.

Tapi sebagai seorang manusia yang memiliki perasaan,terkadang ada masa dimana hati ini merasakan sebuah kekecewaan terhadap pandangan orang akan tubuh saya yang kecil ini.Satu masa dimana saya ingin menangis,bukan untuk menangisi fisik saya tapi menangisi toleransi yang terasa mati.

Dulu,ketika saya praktek kerja industri disebuah koperasi sekolah militer.Seorang pembimbing saya yang memiliki tubuh tinggi nan tegap pernah bertanya pada saya.Pertanyaan yang membuat saya berani mengangkat kepala saya untuk menatap mata beliau (saya terbiasa menunduk jika berhadapan dengan orang yang saya hormati).Beliau bertanya 'berapakah pendek saya?' sekali lagi PENDEK.Yah,bukan bertanya berapa tinggi saya seperti pertanyaan standar lainnya yang saya sering temui dalam formulir-formulir pendaftaran,tapi berapa pendek saya?

Saat itu saya berpikir mungkin beliau sedang bercanda,jadi saya tanggapi dengan tak terlalu serius.Sayangnya ucapan beliau yang berikutnya semakin menguatkan tanda keseriusannya.Ia memojokkan saya dengan fisik saya yang kurang ini.Bukan sebuah caci maki memang tapi cukup membuat saya mengurut dada,menyabarkan diri agar tak terbawa emosi lalu menangis.

Semenjak itu rasa hormat saya pada pembimbing saya sedikit berkurang,bukan benci hanya ada penurunan kadar penghormatan.Usia beliau yang cukup matang saya pikir akan membuat cara berpikirnya lebih dewasa,mampu menghargai orang tanpa memandang lahiriah belaka

Saya tak menyesal terlahir menjadi saya yang sekarang karena toh saya bisa dikatakan lebih beruntung dibandingkan dengan teman-teman saya yang memiliki lebih banyak kekurangan dari saya.Teman-teman yang dengan keterbatasan fisiknya malah sangat percaya diri dan bisa lebih hebat dari orang-orang yang selama ini bisanya hanya mengejek saja.Saya hanya menyesalkan bahwa menghargai manusia tanpa menilai fisik yang selama sekian tahun diajarkan dalam pelajaran pendidikan kewarganegaraan malah terasa hanya sebuah slogan.Terpampang dibanyak tempat tapi bukti nyatanya tak ada.

Beginilah saya,seperti inilah fisik saya dan saya bangga akan diri saya.Mereka boleh memandang rendah saya dan mengatai saya si kerdil tapi saya tahu bahwa saya tak sebatas kata kerdil,ada kelebihan lain yang juga saya miliki.

0 komentar:

Posting Komentar