Rss Feed

Ketika sahabat hanyalah kata

Terbiasa saling sapa,bercerita tentang banyak hal setiap harinya.Dari teman lalu berubah menjadi sahabat,saling menyemangati dalam menjalani keseharian.Lantas semuanya retak,membuat sebuah jarak yang meski tak terlihat tapi terasa.Kata sahabat hanya sebatas kata,karena kita sama seperti saat pertama dulu kenal,penuh basa-basi dalam tiap percakapan.Renggang,dingin dalam tiap kalimat,seakan kalimat-kalimat itu hanya sebuah keterpaksaan,keharusan menyapa agar tetap dapat dipanggil sahabat.

Kita dekat tapi jauh.Pertemanan dan persahabatan itu masih ada tapi nampak semu.Saya salah,saya akui itu,karena terlalu cepatnya saya menuruti emosi hingga akhirnya mengacaukan persahabatan kita.Dan mungkin ini memang yang terbaik untuk kita,berusaha memaafkan satu sama lainnya dengan memberi jarak,karena sepertinya terlalu dekat memang tak akan baik untuk kondisi pertemanan kita yang sekarang.


Kawan,saya memang masih tetap bisa menjalani hari demi hari tanpa adanya kehadiran mu,tapi tak sama lagi,hari terasa melambat.24 jam yang biasa terlewati tanpa terasa karena asyiknya obrolan kini seakan menyiksa,detik terlalu lama berganti,hingga akhirnya saya merasa kata sahabat hanya gumaman belaka.

Kenangan dan saya

Kenangan,sisa-sisa dari masa lampau yang terbawa hingga masa kini.Baik atau buruk tetaplah kenangan,sesuatu yang terkenang dalam ingatan.

Lebih dari duapuluh tahun hidup maka rajutan benang kenangan saya pun terus memanjang.Karena tiap detik yang terlewat disaat yang lalu pada akhirnya akan terajut menjadi sebuah memori,sejarah dalam hidup saya.Kadang tawa bergema saat kotak memori itu terbuka dan memperlihatkan betapa konyol dan bodohnya saya pada masa silam.Namun terkadang tangis pun pecah dengan sendirinya ketika bayangan kesedihan menyinggung sisi sentimen dalam hati saya.

Sebuah gedung bercat merah dan putih yang saya lewati di pagi ini membawa saya pada sosok saya sekian tahun kebelakang,seorang gadis tomboy berusia sepuluh tahun yang berlari mengejar bola diantara segerombol anak-anak lelaki.Peluh menetes tapi tak dihiraukan,seragam putihnya yang terlihat kebesaran mulai berubah warna kecoklatan akibat sering terjatuh dan bersinggungan dengan pemain lawan.Ia bukan striker yang baik karena jarang bisa memasukan bola,ia lebih suka berada dibelakang,menjadi back yang siap menghadang penyerang-penyerang tim lawan.Tak jarang ia pulang dengan wajah cemberut karena mengalami kekalahan.Tapi baginya sepakbola tetaplah kawan baiknya,karena hanya dengan memainkannya ia akan lupa bahwa ia tak memiliki kawan perempuan jika berada dalam kelas.Ya,ia telah lama terasing,menjadi satu-satunya yang tak berteman dengan gadis lain dalam kelasnya.Mereka meninggalkannya untuk sebuah alasan yang bagi orang dewasa adalah sebuah alasan menggelikan.Disaat gadis-gadis lainnya bergerombol untuk makan di kantin,ia hanya akan sendirian dalam kelas karena tak ada yang mengajaknya.Ia dianggap ada hanya untuk dimaki didepan kelas.

Belasan tahun berlalu,mereka yang dulu memaki pun kini sama dewasanya dengan saya,dapat berpikir lebih bijak lagi.Saat berjumpa kami saling merangkul,melupakan masa-masa kekanakan yang dulu pernah kami buat bersama.

Itu salah satu kenangan saya,tak terlalu indah mungkin tapi tetaplah sebuah kenangan.Darinya saya belajar,memperbaiki diri terus untuk menjadi sosok yang lebih baik.Jika boleh jujur untuk kenangan diatas,sakit karena diasingkan pun masih ada tapi jika terus berkutat dengan sakitnya maka tak akan ada habisnya,hanya keburukan yang akan saya lihat.Kenangan itu telah terbuat sekian tahun yang lalu,tertulis dalam salah satu halaman buku hidup saya.Tugas saya bukanlah menatap terus halaman itu tapi membuka halaman untuk diisi kenangan baru.

Manusia hidup salah satunya untuk membuat kenangan,membuat pesan bagi masa depan,sekalipun itu adalah sebuah keburukan.

Anime Quotes

If you think of someone's good qualities as the umeboshi in an onigiri, it's as if their qualities are stuck to their back! People around the world are like onigiri. Everyone has an umeboshi with a different shape and color and flavor. But because it's stuck on their back, they might not be able to see their umeboshi. Maybe the reason people get jealous of each other, is because they can see so clearly the umeboshi on other people's backs. I can see them, too. I can see them perfectly. There's an amazing umeboshi on your back, Kyo-kun.(Tohru Honda-Furuba)

Why does... my heart... hurt so much? Like it's being torn apart. Is it because my outrageous wish... is so disheartening? Is it because I know... that some wishes... don't come true? Even so... I wish. I wish... (Tohru Honda-Furuba)

My mom told me, it's better to trust people than to doubt them. She said that people aren't born with kind hearts. When we're born, all we have are desires for food and material things. Selfish instincts, I guess. But she said that kindness is something that grows inside of each person's body, but it's up to us to nurture that kindness in our hearts. That's why kindness is different for every person.(Tohru Honda-Furuba)

Maybe I'm not perfect. Maybe I have a long way to go. But someday... someday I'll be able to stand and walk on my own. Without hurting anyone... and without being a burden.(Kyo Sohma-Furuba)

I'm not Superman. So I can't say anything big like I'll protect everyone on Earth. I'm not a modest guy who will say it's enough if I can protect as many people as my two hands can handle either. I want to protect... a mountain-load of people.(Ichigo Kurosaki-Bleach)

Move one inch from here... just try coming after me... and I will never forgive you!(Rukia Kuchiki-Bleach)

That sweat, those wounds, and this warmth. These are not illusions. They are real. Now I want to protect what's real, not illusions.(Himura Kenshin-Samurai X)

Menyerah kalah

Akhirnya saya putuskan untuk mundur dan mengakui kekalahan.Saya memang ingin menang,ingin terus berjuang sampai apa yang saya inginkan saya peroleh.Tapi rasanya semakin saya ngotot maju malah membuat saya terluka.Tebing yang saya daki terlalu terjal untuk kemampuan saya yang hanya alakadarnya ini.

Sekian hari yang lalu saya merasa seperti seorang bodoh,berkata tak akan apa-apa,berusaha menggembirakan hati agar mau menghapus airmata dan melanjutkan langkah yang sempat terhenti.Ah,tapi ternyata semakin airmata itu dihapus justru semakin deras airmata itu mengalir.Sesak menyeruak dalam dada,membuat semua emosi saya terkurung hingga tak bisa lepas dari dalam diri.Pengingkaran demi pengingkaran terus lahir.Menjadi seorang pembohong yang terus membohongi diri sendiri dan terus berujar bahwa perjuangan belum berakhir,apa yang diinginkan masih mungkin diraih.Nyatanya kesempatan yang saya miliki hanya 0,01 persen.Bisa apa saya dengan sisa 0,01 persen itu?Merendahkan diri serendah kemungkinan itu?

Ah,tidak.Ini salah,bukan seperti ini seharusnya.Apa yang saya inginkan memang sepertinya tak teraih oleh saya.Itu terlalu tinggi,saya seperti seekor anak bebek yang berharap memiliki induk seekor angsa.Terlalu mengada-ada,penuh khayalan serta imajinasi penipu mata.

Saya harus bangun,sadar dari semua kesemuan yang saya buat sendiri.Tak boleh seperti ini terus menerus,tak boleh memaksakan,karena sejatinya memang saya tak pantas untuk mendapatkannya.Lebih baik mundur teratur,turun dari arena kompetisi.Biar orang yang memiliki kompetensi lebih dari saya yang mendapatkannya.
Mungkin begini lebih baik,mengakui bahwa ada yang lebih berhak atas apa yang saya inginkan.Melupakan sesuatu yang memang dari awal bukanlah milik saya,dengan begini mungkin rasa sesak yang saya rasa selama beberapa hari ini akan hilang berganti sebuah kelegaan.

Anggap saya pengecut atau katakan saya pecundang.Tapi untuk yang satu ini memang saya tak bisa lagi untuk maju.Bendera putih harus saya kibarkan,menyerah,pasrah atas semua yang memang telah jadi ketentuan

Ikhtiar telah saya lakukan semampu saya dan jika memang akhirnya menyerah adalah yang terbaik untuk saya maka saya rela.Sepertinya ada yang lebih bisa diamanahi,dan sayangnya orang itu bukanlah saya.

Benar mungkin apa kata orang-orang bijak,apa yang kamu inginkan belum tentu apa yang kamu butuhkan.Bisa jadi yang saya inginkan hanyalah sebuah keinginan yang bisa hilang dalam sekejap bukan sebuah keharusan dalam hidup.

Saya menyerah,saya kalah tapi untuk mendapatkan kemenangan lainnya dihari esok.

Dan saya memang seperti ini

Seorang gadis berusia 22 tahun.Memiliki tinggi tak lebih dari 150 cm ditambah lagi dengan berat yang hanya 40 kg.Mungil,imut,kecil,pendek,mini,kerdil,kurcaci dan banyak kata lainnya lagi yang biasa saya dengar untuk menggambarkan perawakan saya.
Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara dengan kesemuanya adalah perempuan,perbandingan adalah hal wajar yang saya terima dari masyarakat sekitar.Apalagi jarak usia kami terpaut tak terlalu jauh,hanya dua tahun serta enam tahun.

Tubuh saya yang memang paling kecil diantara semua saudara saya selalu menjadi objek pembanding.Orang yang baru pertama kali berkenalan dengan keluarga kami pasti akan menyangka saya sebagai si bungsu,yah ukuran tubuh yang sangat irit ini selalu berhasil mengecoh mereka.Bagi saya ini adalah sebuah keuntungan,paling tidak saya masih bisa berdandan seperti anak SMA tanpa ada orang yang curiga dengan usia saya yang sebenarnya.Jadi saya sangat menikmati 'anugerah' kecilnya tubuh saya.Tak pernah ambil pusing serta berniat untuk membeli obat peninggi badan,saya merasa cukup dengan saya yang sekarang.

Tapi sebagai seorang manusia yang memiliki perasaan,terkadang ada masa dimana hati ini merasakan sebuah kekecewaan terhadap pandangan orang akan tubuh saya yang kecil ini.Satu masa dimana saya ingin menangis,bukan untuk menangisi fisik saya tapi menangisi toleransi yang terasa mati.

Dulu,ketika saya praktek kerja industri disebuah koperasi sekolah militer.Seorang pembimbing saya yang memiliki tubuh tinggi nan tegap pernah bertanya pada saya.Pertanyaan yang membuat saya berani mengangkat kepala saya untuk menatap mata beliau (saya terbiasa menunduk jika berhadapan dengan orang yang saya hormati).Beliau bertanya 'berapakah pendek saya?' sekali lagi PENDEK.Yah,bukan bertanya berapa tinggi saya seperti pertanyaan standar lainnya yang saya sering temui dalam formulir-formulir pendaftaran,tapi berapa pendek saya?

Saat itu saya berpikir mungkin beliau sedang bercanda,jadi saya tanggapi dengan tak terlalu serius.Sayangnya ucapan beliau yang berikutnya semakin menguatkan tanda keseriusannya.Ia memojokkan saya dengan fisik saya yang kurang ini.Bukan sebuah caci maki memang tapi cukup membuat saya mengurut dada,menyabarkan diri agar tak terbawa emosi lalu menangis.

Semenjak itu rasa hormat saya pada pembimbing saya sedikit berkurang,bukan benci hanya ada penurunan kadar penghormatan.Usia beliau yang cukup matang saya pikir akan membuat cara berpikirnya lebih dewasa,mampu menghargai orang tanpa memandang lahiriah belaka

Saya tak menyesal terlahir menjadi saya yang sekarang karena toh saya bisa dikatakan lebih beruntung dibandingkan dengan teman-teman saya yang memiliki lebih banyak kekurangan dari saya.Teman-teman yang dengan keterbatasan fisiknya malah sangat percaya diri dan bisa lebih hebat dari orang-orang yang selama ini bisanya hanya mengejek saja.Saya hanya menyesalkan bahwa menghargai manusia tanpa menilai fisik yang selama sekian tahun diajarkan dalam pelajaran pendidikan kewarganegaraan malah terasa hanya sebuah slogan.Terpampang dibanyak tempat tapi bukti nyatanya tak ada.

Beginilah saya,seperti inilah fisik saya dan saya bangga akan diri saya.Mereka boleh memandang rendah saya dan mengatai saya si kerdil tapi saya tahu bahwa saya tak sebatas kata kerdil,ada kelebihan lain yang juga saya miliki.

Pada suatu musim

Kamu,pria yang Tuhan ciptakan untuk menjadi pemimpin ku kelak.Dimanakah dirimu?Kita tertulis untuk bersama namun rentangan benang takdir memisahkan kita untuk sementara.Ada sekian masa dan jarak yang harus kita tempuh untuk dapat menikmati manisnya perjumpaan.Hanya meyakini bahwa segalanya akan indah pada waktunya itu yang bisa ku lakukan.

Aku merindukan saat itu,saat ketika aku akan tertunduk malu ketika pandangan mu tertuju pada ku.Aku merindukan saat itu,saat dimana dirimu meminang ku menjadi kekasih seumur hidup mu.Mengucapkan janji pada ayah ku,berikrar bahwa kamu akan membahagiakan ku.Berdua mendayung perahu kehidupan yang kita rakit bersama.Menahan hempasan angin,melawan arus yang bersiap menenggelamkan perahu sederhana kita,hingga menuju pantai yang kita idamkan dengan tetap mendayung penuh lelah bersama-sama.

Aku ingin menjadi kekasih mu tak sebatas dunia yang sekejap mata ini.Surga,menjadi rumah yang ku dambakan menjadi pelindung kita kelak.Aku ingin menjadi bidadari untuk mu,melayani mu kembali.Ya,berharap bahwa jalinan yang kita punya menjadi sebuah keabadian.Berlebihan kah keinginan ku ini?
Duhai engkau calon pendamping ku!

Aku menunggu mu.Menunggu layaknya seorang pengembara yang tersesat di dataran gurun berpasir,bagai pagi yang menanti sinar sang mentari,dan seperti Hawa yang tak sabar berjumpa dengan Adam.

Pertemuan kita.Ya,suatu hari nanti pada suatu musim di bumi ini.