Rss Feed

Menyerah kalah

Akhirnya saya putuskan untuk mundur dan mengakui kekalahan.Saya memang ingin menang,ingin terus berjuang sampai apa yang saya inginkan saya peroleh.Tapi rasanya semakin saya ngotot maju malah membuat saya terluka.Tebing yang saya daki terlalu terjal untuk kemampuan saya yang hanya alakadarnya ini.

Sekian hari yang lalu saya merasa seperti seorang bodoh,berkata tak akan apa-apa,berusaha menggembirakan hati agar mau menghapus airmata dan melanjutkan langkah yang sempat terhenti.Ah,tapi ternyata semakin airmata itu dihapus justru semakin deras airmata itu mengalir.Sesak menyeruak dalam dada,membuat semua emosi saya terkurung hingga tak bisa lepas dari dalam diri.Pengingkaran demi pengingkaran terus lahir.Menjadi seorang pembohong yang terus membohongi diri sendiri dan terus berujar bahwa perjuangan belum berakhir,apa yang diinginkan masih mungkin diraih.Nyatanya kesempatan yang saya miliki hanya 0,01 persen.Bisa apa saya dengan sisa 0,01 persen itu?Merendahkan diri serendah kemungkinan itu?

Ah,tidak.Ini salah,bukan seperti ini seharusnya.Apa yang saya inginkan memang sepertinya tak teraih oleh saya.Itu terlalu tinggi,saya seperti seekor anak bebek yang berharap memiliki induk seekor angsa.Terlalu mengada-ada,penuh khayalan serta imajinasi penipu mata.

Saya harus bangun,sadar dari semua kesemuan yang saya buat sendiri.Tak boleh seperti ini terus menerus,tak boleh memaksakan,karena sejatinya memang saya tak pantas untuk mendapatkannya.Lebih baik mundur teratur,turun dari arena kompetisi.Biar orang yang memiliki kompetensi lebih dari saya yang mendapatkannya.
Mungkin begini lebih baik,mengakui bahwa ada yang lebih berhak atas apa yang saya inginkan.Melupakan sesuatu yang memang dari awal bukanlah milik saya,dengan begini mungkin rasa sesak yang saya rasa selama beberapa hari ini akan hilang berganti sebuah kelegaan.

Anggap saya pengecut atau katakan saya pecundang.Tapi untuk yang satu ini memang saya tak bisa lagi untuk maju.Bendera putih harus saya kibarkan,menyerah,pasrah atas semua yang memang telah jadi ketentuan

Ikhtiar telah saya lakukan semampu saya dan jika memang akhirnya menyerah adalah yang terbaik untuk saya maka saya rela.Sepertinya ada yang lebih bisa diamanahi,dan sayangnya orang itu bukanlah saya.

Benar mungkin apa kata orang-orang bijak,apa yang kamu inginkan belum tentu apa yang kamu butuhkan.Bisa jadi yang saya inginkan hanyalah sebuah keinginan yang bisa hilang dalam sekejap bukan sebuah keharusan dalam hidup.

Saya menyerah,saya kalah tapi untuk mendapatkan kemenangan lainnya dihari esok.

0 komentar:

Posting Komentar